Kamis, 31 Maret 2016

Mental Meminta-minta yang Harusnya Tiada



Cerita ini terangkat kembali ketika terberitakan ayah seorang artis ternama terjaring pada saat mengemis.

Periode waktu awal tahun 90an sampai pertengahannya,trayek bus Jogja Solo adalah jalur langgananku.Yah saat itulah,aku sering nglajo dari Klaten ke Solo.


Beberapa bulsn yang lalu,pas ada keperluan,nostalgia menikmati perjalanan bus itu kulakukan,Kebetulan dpt bus yang sama seperti waktu dulu.Batinku waktu trs berjalan sekian puluh tahun,tapi seperti tdk ada kemajuan.Masih bumel,tidak memakai AC,dan tambah berdesak desakan rasanya.


Masuklah pengamen di suatu sub terminal.Awalnya senang rasanya,teringat jaman dulu.Lagunya juga kayak dulu,syairnya lucu.Ah ini wisata rohani utk mengenang masa lalu,batinku saat itu.Hingga pada saat selesai,dan pengamen itu berkeliling "menarik" uang jasanya,aku tak lupa menaruhnya juga di tempat yang terbuat dari bekas bungkus permen."Ini saatnya memejam mata yg ngantuk",batinku setelah pengamen turun.


Namun tiba-tiba,masuklah serombongan anak anak muda dengan wajah yg keliatan bengis,bertatto dikedua tangannya(mungkin seluruh tubuhnya).Mengucapkan salam,tp dengan nada yg tidak enak didengar,nerocos dan bernyanyi yg tidak bermutu.Mulai gelisah perasaanku.Kok beda dengan waktu dulu.Kalau ada pengamen turun,tidak akan ada pengamen yang baru naik.Ada sungkan-sungkannya.Ini kok bersambung,dan seolah jadi lahan pekerjaan mereka yang secara fisiknya masih muda dan kuat.Aku dan banyak penumpang lainnya,"terpaksa" merogoh lagi kantong,untuk memberikan recehan kpd salah satu pengamen yang menarik uang dengan wajah yg dibuat seram dan seolah ancaman bagi yg tidak memberi.
Selesai itu,setiap kali bus berhenti,naiklah lagi orang dengan wajah dibuat merana.Langsung pidato.Intinya butuh bantuan anaknya perlu bayar uang sekolah.Kata penumpang disebelahku.
,"gak usah diberi mas,itu tiap hari seperti itu".Modus katanya.Belum lagi yang bawa kotak amal utk pembangunan tempat ibadah yang lokasinya jauh dari trayek bus ini.


Prihatin,sedih,dan dongkol campur aduk rasanya.Kadang muncul pertanyaan,apakah semua ini karena perkonomian negara yang lagi lesu sehingga mereka berlaku seperti itu,ataukah sebetulnya mental2 seperti itu yang membuat negara ini tidak maju.


Anehnya lagi,pada saat ada pedagang asongan yang menjajakan permen,atau alat tulis,atau makanan kecil justru tidak mendapat apa2.Penumpang pada cuek.Padahal mereka ini lebih bermodal,ada usahanya ,serta sopan tapi di atas bus mereka hanya lewat spt dianggap angin lalu.Mungkin kesopanan mereka tdk membuat takut penumpang manakala mereka tdk membeli.Mereka yang berusaha dan bermodal kalah kepada mereka yang sebetulnya "hanya meminta".Ironis dan bikin nangis.Bayangan wajah yang mengalah,yang ditunggu anak istri dirumah,untuk mendapatkan nafkah membuatku hatiku terperangah dan terpecah pecah.
"Tiap hari ya kayak begitu mas,saya apal",kata penumpang disebelahku.Kebetulan dia pelajo yang tiap hari naik bus."Mungkin penghasilan mereka lebih besar daripada saya",keluhnya.Saya dpt menakar berapa penghasilan para musisi dan para peminta itu.


Sampai saya turun pun,berbarengan dengan pengamen yang turun di pintu depan.Dan pintu belakang 2 orang masuk,salah satunya bawa okulele.Pengamen lagi pikirku.
Sambil menunggu jemputan anak dan istri.Sembari duduk aku lihat beberapa "oleh oleh" untuk anakku.Ada buku cerita harga 5 ribu,ada alat tulis lengkap 10 ribu,dan bakpia jadi jadian 2 ribu.Ternyata lebih besar dari ongkos naik busnya.Tidak apa,masih ada sisa tagihan yang bisa dibawa pulang.
Ketika istriku dan anakku datang.Kuberikan oleh oleh itu.Wajahnya ceria,girang banget wajahnya.Bukan benda yang mahal,tp sesuatu kehormatan bisa memberi kebahagiaan dengan harta yg diperoleh dengan tetap mejaga kehormatan,tidak mencuri dan meminta minta.....


Aku pulang,tegak dan cerah wajah ini harus selalu dijaga.Biarlah wajah ini tetap jadi saksi pada saat hari perhitungan nanti.....wajah yang tetap diselimuti daging,bukan spt wajah seorang peminta minta seperti hadist yang diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma.
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya
Kalikotes 23 Oktober 2015(M Naufal Ramadhan ,genap 4 bulan)




Selasa, 29 Maret 2016

Tiada Sesuatupun yang Sia-sia,Pasti Ada Manfaat



Pada awalnya muncul rasa kecewa,"ah sayang ,mengapa ada yang pecah?".Itu adalah respon awal ,ketika tukang pasang keramik memberi tahu,ada keramik pecah ketika membuka duznya.Dengan spec yg menurutku bagus,kemasan yang kuat dan safety,dan cara membawa yg penuh kehati hatian,rasanya mustahil ada yang pecah.Bayanganku harus keluar uang lagi utk membeli keramik.Di awal sebelum pembelian,sdh diitung secara njlimet antara bidang yang mau dipasang dengan kebutuhan keramik yang mau dibeli.

KEJUJURAN ANAK YANG MENCENGANGKAN



Sumber: Dari rangkuman postingan di FB teman

Kejadiannya sekitar tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SDN 1 Belang Wetan 1. Anak sulung kami yang bernama Haki, duduk di kelas 3 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Haki yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Haki, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.