Cerita ini terangkat kembali ketika terberitakan ayah seorang artis ternama terjaring pada saat mengemis.
Periode waktu awal tahun 90an sampai
pertengahannya,trayek bus Jogja Solo adalah jalur langgananku.Yah saat
itulah,aku sering nglajo dari Klaten ke Solo.
Beberapa bulsn yang lalu,pas ada
keperluan,nostalgia menikmati perjalanan bus itu kulakukan,Kebetulan dpt bus
yang sama seperti waktu dulu.Batinku waktu trs berjalan sekian puluh tahun,tapi
seperti tdk ada kemajuan.Masih bumel,tidak memakai AC,dan tambah berdesak
desakan rasanya.
Masuklah pengamen di suatu sub
terminal.Awalnya senang rasanya,teringat jaman dulu.Lagunya juga kayak
dulu,syairnya lucu.Ah ini wisata rohani utk mengenang masa lalu,batinku saat
itu.Hingga pada saat selesai,dan pengamen itu berkeliling "menarik"
uang jasanya,aku tak lupa menaruhnya juga di tempat yang terbuat dari bekas
bungkus permen."Ini saatnya memejam mata yg ngantuk",batinku setelah
pengamen turun.
Namun tiba-tiba,masuklah serombongan
anak anak muda dengan wajah yg keliatan bengis,bertatto dikedua
tangannya(mungkin seluruh tubuhnya).Mengucapkan salam,tp dengan nada yg tidak
enak didengar,nerocos dan bernyanyi yg tidak bermutu.Mulai gelisah
perasaanku.Kok beda dengan waktu dulu.Kalau ada pengamen turun,tidak akan ada
pengamen yang baru naik.Ada sungkan-sungkannya.Ini kok bersambung,dan seolah
jadi lahan pekerjaan mereka yang secara fisiknya masih muda dan kuat.Aku dan
banyak penumpang lainnya,"terpaksa" merogoh lagi kantong,untuk
memberikan recehan kpd salah satu pengamen yang menarik uang dengan wajah yg
dibuat seram dan seolah ancaman bagi yg tidak memberi.
Selesai itu,setiap kali bus
berhenti,naiklah lagi orang dengan wajah dibuat merana.Langsung pidato.Intinya
butuh bantuan anaknya perlu bayar uang sekolah.Kata penumpang disebelahku.
,"gak usah diberi mas,itu tiap hari seperti itu".Modus katanya.Belum lagi yang bawa kotak amal utk pembangunan tempat ibadah yang lokasinya jauh dari trayek bus ini.
,"gak usah diberi mas,itu tiap hari seperti itu".Modus katanya.Belum lagi yang bawa kotak amal utk pembangunan tempat ibadah yang lokasinya jauh dari trayek bus ini.
Prihatin,sedih,dan dongkol campur
aduk rasanya.Kadang muncul pertanyaan,apakah semua ini karena perkonomian
negara yang lagi lesu sehingga mereka berlaku seperti itu,ataukah sebetulnya
mental2 seperti itu yang membuat negara ini tidak maju.
Anehnya lagi,pada saat ada pedagang
asongan yang menjajakan permen,atau alat tulis,atau makanan kecil justru tidak
mendapat apa2.Penumpang pada cuek.Padahal mereka ini lebih bermodal,ada
usahanya ,serta sopan tapi di atas bus mereka hanya lewat spt dianggap angin
lalu.Mungkin kesopanan mereka tdk membuat takut penumpang manakala mereka tdk
membeli.Mereka yang berusaha dan bermodal kalah kepada mereka yang sebetulnya
"hanya meminta".Ironis dan bikin nangis.Bayangan wajah yang
mengalah,yang ditunggu anak istri dirumah,untuk mendapatkan nafkah membuatku
hatiku terperangah dan terpecah pecah.
"Tiap hari ya kayak begitu
mas,saya apal",kata penumpang disebelahku.Kebetulan dia pelajo yang tiap
hari naik bus."Mungkin penghasilan mereka lebih besar daripada
saya",keluhnya.Saya dpt menakar berapa penghasilan para musisi dan para
peminta itu.
Sampai saya turun pun,berbarengan
dengan pengamen yang turun di pintu depan.Dan pintu belakang 2 orang
masuk,salah satunya bawa okulele.Pengamen lagi pikirku.
Sambil menunggu jemputan anak dan
istri.Sembari duduk aku lihat beberapa "oleh oleh" untuk anakku.Ada
buku cerita harga 5 ribu,ada alat tulis lengkap 10 ribu,dan bakpia jadi jadian
2 ribu.Ternyata lebih besar dari ongkos naik busnya.Tidak apa,masih ada sisa
tagihan yang bisa dibawa pulang.
Ketika istriku dan anakku
datang.Kuberikan oleh oleh itu.Wajahnya ceria,girang banget wajahnya.Bukan
benda yang mahal,tp sesuatu kehormatan bisa memberi kebahagiaan dengan harta yg
diperoleh dengan tetap mejaga kehormatan,tidak mencuri dan meminta minta.....
Aku pulang,tegak dan cerah wajah ini
harus selalu dijaga.Biarlah wajah ini tetap jadi saksi pada saat hari
perhitungan nanti.....wajah yang tetap diselimuti daging,bukan spt wajah
seorang peminta minta seperti hadist yang diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah
bin ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma.
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya
Kalikotes 23 Oktober 2015(M Naufal Ramadhan ,genap 4 bulan)