Kamis, 22 Desember 2016

Bukankah Ketidakcocokan itu Ada Sejak Dulu

Beberapa hari yang lalu.Tepatnya aku lupa.Tapi belum ada sebulan.Datang kepadaku teman lama yang umurnya 10 tahunan dibawah umurku.Berbeda dari tahun ketahun.Tak perlu kuceritakan penampilannya dan apa yang yang melekat ditubuhnya.Hanya dari wangi berklas saja aku simpulkan kawan aku ini mapan.

Hingga pada suatu ketika,setelah ngalor ngidul kita berbicara.Angin yang semilir karena hujan seharian telah jatuh,kawanku membuka omongan serius."Bro,aku ingin bercerai dengan istriku.......".Serasa hujan yang telah terhenti lama,tiba tiba ada petir susulan yang menggelegar di telingaku.Dahsyat.Efek kejut memang lebih terasa karena kita sering menduga hal hal tidak akan terjadi hanya karena tidak ada tanda tanda diawalnya.Aku mencoba bersikap tenang.Kupaksa tenang,biar temanku tetap menjaga ketenangan hatinya.Banyak hal aku paham lagunya kawanku ini.Untuk tetap jernih aku tidak akan membuat suatu manuver yg mengusik air hingga menjadi keruh.

"Kenapa bro?",tanyaku.Kawanku itu mematikan rokoknya yang belum lama disulut dengan menekannya ke dalam asbak.Dari cara mematikannya ada getar yang terlihat olehku.Ada keraguan dalam hati kawanku ini."Aku sudah tidak cocok dengan istriku bro",jawaban yang menurutku ngawur dan gampang dipatahkan.
Aku sedikit senyum.Dia lanjutkan lagi omongannya,"dia tidak menghargai aku sebagai laki laki sekaligus suaminya,aku merasa berjalan bersamannya tidak memeperlihatkanku sebagai seorang leader dimata anak buahku yang semua tampil modern dan fashionable".

Tawa atau rasa mutah mutahku ku tahan.Geli.Sambil kupersilakan minum.Aku mulai berbicara,"eh bro,kalau masalah tidak cocok aku sama istriku pun banyak yang tidak cocok.Namun apa iya karena tidak cocok trs bercerai.".Aku berusaha tidak memberi nasehat.Keliru takutnya.Hanya mencoba membandingkan saja."Sejak awal kita berkenalan dengan istri kita dulu pasti ditemukan hal hal yang tidak cocok.Namun tidak terlihat karena mata dan hati kita tertutup oleh rasa karena terpesona,cinta dan segala embel embelnya itu.Dan semua indah diwaktu itu.Tidak ada yang perlu dimasalahkan dengan segala tidak kecocokan itu".

Kawanku ini berkali kali meminum kopinya.Kopi dariku bukan kopi yang enak dan mahal,Hanya kopi hitam warungan yang dibeli,disedu,dan diantarkan ke tamunya oleh anakku didampingi istriku.Hanya perasaan grogi dan bimbang yang melakukan seperti itu.Aku tidak mengupas pernyataan lanjutan kawanku ini.Namun dengan iseng ku pancing dengan pertanyaan,"bro kamu punya gebetan lain apa?".Wajahnya tersipu.Tapi aku yakin bukan karena malu tersipunya.Cuma karena ia merasa dapat sebuah tempat tong sampah untuk menumpahkan sampah didadanya."iya bro......".

"Cobalah kilas balik tentang perasaanmu kepada gebetanmu dan istrimu pada awal awal perkenalanmu dulu.Pasti indah bukan.Namun sebetulnya itu ada perbedaan,bahkan banyak.Entah karena kesukaan,hobby,cara pandang tentang kehidupan,respon terhadap peristiwa sosial dan sebagainya dan sebagainya.Namun kamu tidak galau to bro",sambil kulirik kawanku itu."Kalaupun sekarang ada masalah ya karena kita mempersoalkannya baru sekarang,mengapa tidak dari dulu".Kulihat lagi dia meneguk kopinya.Kulihat hampir habis."Manusia dihinggapi rasa bosan terhadap apa apa yang ada dihadapinya,Dan rasa bosan yang akut dan tidak tertangani bisa jadi bola liar yang lari kemana mana.Kamu merasa pasangan berubahlah,tidak bisa mengikuti perkembanganlah,tidak lagi menarik".Lagi lagi dia  meneguk kopinya yang tinggal sedikit.Lagi lagi bukan karena senang kopi,tapi saya yakin karena grogi.

"Bro,kita adalah sama sama lelaki.Apa yang kau rasakan adalah kurang lebih apa yang kurasakan".Kali ini kawanku manggut manggut."Masalahmu dengan gebetanmu adalah duplikasi dengan istrimu yang sekarang,perasaanmu akan sama nanti pada akhirnya.Gebetan jilid jilid berikutnya pasti akan tayang,kalau cara pandang kita terhadap pasangan adalah sama sepertimu.Bisa jadi lebih parah manakala pasangan berikutnya  kita ini ada bad karakter yang tersembunyi."

"Apa yang kurang dengan istrimu.Dia dulu juga menarik.Wanita modern dijamannya.Punya karier.Demi  ingin mempersembahkan anugrah anak, untukmu,dia rela meninggalkan semuanya.Sekarang anakmu tumbuh besar,pintar,tidak narkoba ,tidak terlbat geng motor.Semua pengorbanan istrimu yang sangat setia menjaga dan membimbingnya.Untuk tidur dia menunggu pulangmu dan lelap anakmu.Bersabar dan sendirian menjadi benteng ketika kamu membangun karier dengan tidak kenal waktu bekerja.Namun sekarang dengan azas tidak ada kecocokan kamu mau mencampakkannya.Kamu yakin dengan gebetanmu yang sekarang kamu bisa seperti ini.Apa malah mungkin kamu terperosok ke jurang.Suara dan gerak istrimu memang tidak selenjeh gebetanmu.Tapi aku yakin ibu yang terbaik memberikan suara dan gerak yang jadi pelecut suami untuk tampil gagah dan sebagai pelindung keluarganya.Aku yakin bro seyakin aku memandang kasusmu ini,semua hanya karena bagaimana kita menjaga nafsu".....Untuk kasusmu bro,kamu hanya nafsu".

"Bro,kalau ada yang salah dengan istri kita.Cari dulu apa yang salah dengan kita.Siapa tahu sumbernya justru dari kita .Kalau memang ada di istri kita,kita pemimpinnya,kita yang merperbaikinya.Kalau kita sdh ada surga kecil yang nyaman,mengapa kita berpikir hrs bangun tempat besar yang belum jelas jadi surga atau neraka.Sayangi istrimu seperti halnya kamu menghormati ibumu.Mungkin ibu kita tidak ada disisi kita ketika kita menjadi tua dan lemah,tapi istrilah yang setia mendampingi".Kulihat kawanku pandangannya kosong,sambil menempelkan mulutnya di gelas yang tinggal ampas kopinya.

"Bro,kopinya sdh habis itu.Biar dibuatkan lagi ya",tawaranku membuyarkan lamunannya.Dengan gelagapan dia menyahut,"eh....boleh,tapi gelasnya pakai ini ya",jawabnya.Aku tersenyum ini isyarat atau bukan,kita tak perlu mengganti gelas atau memecahkannya hanya karena disitu tinggal ampas kenangan.Kita hanya perlu mengganti isinya dan menyajikannya kembali dengan penuh kasih.Istriku kembali memberikan gelas yang telih terisi kopi yang baru."Ini bro,kita ternyata tak harus mengganti gelas untuk kopi yang baru.Sama halnya kita tidak perlu mengganti istri kita untuk kebahagiaan kita,kebanggaan anak anak terhadap orang tuanya,dan persiapan menghadapi perjalanan abadi kelak.Jadikan istri adalah tampungan segala kegembiraan kita,jadikan istri adalah ibu yang setia untuk menjaga kebahagian kita,dan jadikan istri adalah perhiasan yang indah dan menyejukkan hati".....

Aku tidak bisa menahan ketika kawanku pulang,seperti aku tidak bisa melarangnya berbuat sesuka hatinya.Hidup adalah pilihan.

Didedikasikan untuk peringatan hari Ibu,22 Desember 2015
Rumah Produksi Sambel Welut Tjap Tugu Djogja

Wawan Irianto

Sabtu, 25 Juni 2016

Jangan Nilai Aku Dengan Pakaianku

Ku hentikan laju sepeda motorku di sebuah mesjid di perbatasan kotaku dengan kabupaten sebelah.Terdengar adzan.Saatnya untuk selalu memenuhi panggilannya.Jaket jeans yang tidak begitu lusuh kulepas dan kusandarkan di stang kemudi,menutup helm yang sebelumnya kucantelkan dikaca spion.Sesaat kemudian ku berjalan ke serambi mesjid,dan segera duduk.Tarik nafas panjang.Sembari melihat sekeliling.Beberapa mata memandang agak aneh.Dipikirnya monster aku ini.Dari pakaiannya jelas berbeda denganku.Aku hanya pakai kaos ketat,celana jeans kesukaanku,dan sepatu boot kulit.Sedang mereka pakai jubah panjang,celana kain yang tidak menutup mata kaki.berkopiah dan berjanggut.

Kamis, 21 April 2016

Jadilah Pejuang Kemanusiaan Anak anakku


Setiap kali melihat kedua jagoanku,ada perasaan luarbiasa betapa beruntungnya saya punya keduanya.Kehadiran mereka yang ditandai waktu waktu yang relatif lama dalam penantian dan upaya upaya yang rumit dan tuntas merogoh kocek kami,membuat kesenangan hati ini berlipat lipat.

M E N G A B A D I K AN K E B A I K A N


Ada beberapa teman yang harus mengeluarkan uang sekitar 30-60 ribu untk bisa melenggang dikawasan 3 in 1 di beberapa ruas di Jakarta di jam jam tertentu di hari selain Sabtu dan Minggu.Dilakukan karena alasan praktis utk menghindar macet dan memburu waktu,sementara aturan kendaraan berpenumpang minimal 3 orang,tidak dipenuhi beberapa kawan tersebut yang selalu sendirian.Uang tersebut diberikan kepada joki joki yang telah antri di mulut jalan.Dan selalu begitu.

R E S O L U S I


Pada suatu hari diawal bulan,dan di suatu bulan awal tahun,seorang pemilik perusahaan menengah sedang memberikan gaji kepada 2 karyawan barunya.Kepada karyawan A diberikannya gaji lebih besar dari si B.Perbedaan disebabkan keahlian,kewenangan,dan pentingnya jabatan itu di perusahaan,Kepada si A ,pemilik perusahaan itu memberikan dengan senyuman dan tanpa kata kata.Si A merasa bangga dan senang hati bukan kepalang menerima gaji pertama itu,Nominal yang besar membuat si A merasa seolah dunia miliknya.Bakalan terbeli semua keinginannya.

Senin, 04 April 2016

Toleransi tidak hanya Cukup Kata.Tapi Upaya





Di sebuah teras suatu sore.Bersiaplah seorang bapak dan bocah laki laki umuran 10 tahun.Dari pakaiannya mereka mau datang sebuah pengajian.Pakai baju koko dan kopiah.Sang bapak mengeluarkan sepeda motor.Sang anak mengikutinya dari belakang.Motor mulai dinyalakan mesinnya.Siap berangkat.Tapi tiba tiba melintas seorang tetangganya,pasangan suami istri, dan anaknya yang berumur 3 tahun.Sang suami menuntun motornya,yang istri menggendong anaknya mengikuti dari belakang.


Untuk Mati,Kita Tidak Harus Menunggu Tua



Cerita berawal dari rutinitas.Antar jemput anak dapat sarana pengajaran yang bagus.Banyak hikmah disana.Suatu hari ,sperti biasanya,aku menjemput anakku dari sekolah.Sampai di sekolah ,sudah agak sepi.Telat rupanya aku menjemputnya.Ternyata sekolah dibubarkan sedikit lebih cepat dari biasanya.Ada acara mendadak,sehingga sekolah perlu membubarkan kegiatan pelajaran lebih awal,dan akupun orang yang tidak mendengar sebelumnya,maka anakku termasuk belakangan dijemputnya.Anakku tersenyum sambil melambaikan tangan,kelihatan lega.Hatikupun puas,karena anakku tidak marah,berarti pelajaran tentang kesabaran nyambung juga di hatinya.”Maaf ya dik,bapak telat”,permintaan maafku untuk sekedar menanamkan rasa gentle untuk merasa bersalah terhadap suatu kesalahan sekalipun tidak disengaja.”Nggak papa kok pak,kan hanya sebentar”,jawabnya.Clesss…..luar biasa hatiku bergetar dan sejuk didadaku mendengar kata “hanya sebentar”..Anak usia TK sudah berempati agar orang lain tidak merasa bersalah.Subhanallah…subhanallah…..Ya Allah jadikan amanahmu ini selalu dalam bimbinganMu ya Allah.

Minggu, 03 April 2016

Berkendara yang Nikmat Ketika Kita Berysukur

Hari itu tak biasanya anakku menunggu jemputanku tidak bergairah.Ada wajah murung.Ditekuk wajahnya persis aku pada saat aku sedang kecewa.Ada apa rupanya.”Bapak telat lagi ya dik jemputnya?”tanyaku.”Enggak telat”,jawabnya singkat.”Tapi kok murung?”,balasku .”Aku sedang marah ,marah sama temanku dan marah sama bapak”,jawab anakku.Persis juga wataknya denganku waktu kecil.Dapat masalah dari luar ngambeknya ke orang tua.Aku tuntun dia di sudut sekolah yang ada ayunannya.Kuajak dia duduk,”Tolong cerita sama bapak dik mengapa kamu marah sama temanmu kok bapak juga kena marah?”,pintaku agar dia bercerita.

Sabtu, 02 April 2016

Bapak yang Baik Adalah yang Bisa Menjaga Perasaan Anaknya



Pagi itu terasa berbeda dengan hari-hari biasa.Banyak hal yang tidak biasa kukerjakan di pagi hari,kulakukan di pagi itu.Sholat subuh jamaah,mencuci motor,menyapu dan mengepel lantai.Tapi sebaliknya ada hal yang kulakukan jadi tidak kulakukan di pagi itu.On line di depan computer untuk sekedar lihat status di facebook,melihat hiruk pikuk berita kasus korupsi di negeri ini,dan sekedar melihat hasil skore liga Eropa jadi terlewatkan.Hari itu ibu bapakku rawuh dan tidur di rumahku semalam.Memang sebelumnya aku “suruh” mereka dolan ke rumah,sekedar untuk pamer bahwa rumahku sudah dipasang plafon.Mungkin hal ini bisa jadi sesuatu yang remeh bagi orang lain.Tapi bagi kami hal yang demikian sesuatu yang luar biasa untuk disyukuri.Alhamdulillah plafon itu tdk saja menjadikan rumah kami jadi rapi.Lebih dari itu plafon memberikan filosofi,bahwa kami harus dibatasi untuk selalu melihat ke atas.Jadi kami merasakan nikmatnya bersyukur.

Jumat, 01 April 2016

Berbeda itu Indah,bak Pelangi



"Pelangi pelangi alangkah indahmu
Merah kuning hijau dilangit yang biru
Pelukismu agung,siapakah gerangan
Pelangi pelangi ciptaan Tuhan"


Demikian bait lagu yang saat kita kecil sudah diajarkan.Begitu mudah diingat dan dihapal.Sebuah pengakuan yang tidak terbantahkan,jadi sulit dilupakan.Pelangi memang indah.Perpaduan dari beberapa warna yang berjejer.

Panggilan Allah Menuju Rumahnya,adalah Ketika Terdengar Adzan

Pernahkah anda diundang untuk menguhadiri
acara pelepasan haji.Apakah niat anda disana.Pengajiankah?.Atau minta didoakan sang calon haji agar tujuan dan cita- cita anda diijabah Allah .Ini pengalaman beberapa orang yang telah mendatangi acara tersebut.Saya ceritakan dalam sebuah cerita.


Kursi dan meja telah ditata rapi.Berjejer di bawah naungan beberapa tenda yang didirikan.Di ujung jalan masuk,sebuah gang di pemukiman terdapat banner yang direntangkan.Seolah melepas seseorang yang bakal pergi.Bertuliskan selamat kepada sepasang suami istri yang mau menunaikan ibadah haji di Mekah Madinah.Terlihat di depan namanya belum bertambah huruf "H" dan "Hj".

Kamis, 31 Maret 2016

Mental Meminta-minta yang Harusnya Tiada



Cerita ini terangkat kembali ketika terberitakan ayah seorang artis ternama terjaring pada saat mengemis.

Periode waktu awal tahun 90an sampai pertengahannya,trayek bus Jogja Solo adalah jalur langgananku.Yah saat itulah,aku sering nglajo dari Klaten ke Solo.


Beberapa bulsn yang lalu,pas ada keperluan,nostalgia menikmati perjalanan bus itu kulakukan,Kebetulan dpt bus yang sama seperti waktu dulu.Batinku waktu trs berjalan sekian puluh tahun,tapi seperti tdk ada kemajuan.Masih bumel,tidak memakai AC,dan tambah berdesak desakan rasanya.


Masuklah pengamen di suatu sub terminal.Awalnya senang rasanya,teringat jaman dulu.Lagunya juga kayak dulu,syairnya lucu.Ah ini wisata rohani utk mengenang masa lalu,batinku saat itu.Hingga pada saat selesai,dan pengamen itu berkeliling "menarik" uang jasanya,aku tak lupa menaruhnya juga di tempat yang terbuat dari bekas bungkus permen."Ini saatnya memejam mata yg ngantuk",batinku setelah pengamen turun.


Namun tiba-tiba,masuklah serombongan anak anak muda dengan wajah yg keliatan bengis,bertatto dikedua tangannya(mungkin seluruh tubuhnya).Mengucapkan salam,tp dengan nada yg tidak enak didengar,nerocos dan bernyanyi yg tidak bermutu.Mulai gelisah perasaanku.Kok beda dengan waktu dulu.Kalau ada pengamen turun,tidak akan ada pengamen yang baru naik.Ada sungkan-sungkannya.Ini kok bersambung,dan seolah jadi lahan pekerjaan mereka yang secara fisiknya masih muda dan kuat.Aku dan banyak penumpang lainnya,"terpaksa" merogoh lagi kantong,untuk memberikan recehan kpd salah satu pengamen yang menarik uang dengan wajah yg dibuat seram dan seolah ancaman bagi yg tidak memberi.
Selesai itu,setiap kali bus berhenti,naiklah lagi orang dengan wajah dibuat merana.Langsung pidato.Intinya butuh bantuan anaknya perlu bayar uang sekolah.Kata penumpang disebelahku.
,"gak usah diberi mas,itu tiap hari seperti itu".Modus katanya.Belum lagi yang bawa kotak amal utk pembangunan tempat ibadah yang lokasinya jauh dari trayek bus ini.


Prihatin,sedih,dan dongkol campur aduk rasanya.Kadang muncul pertanyaan,apakah semua ini karena perkonomian negara yang lagi lesu sehingga mereka berlaku seperti itu,ataukah sebetulnya mental2 seperti itu yang membuat negara ini tidak maju.


Anehnya lagi,pada saat ada pedagang asongan yang menjajakan permen,atau alat tulis,atau makanan kecil justru tidak mendapat apa2.Penumpang pada cuek.Padahal mereka ini lebih bermodal,ada usahanya ,serta sopan tapi di atas bus mereka hanya lewat spt dianggap angin lalu.Mungkin kesopanan mereka tdk membuat takut penumpang manakala mereka tdk membeli.Mereka yang berusaha dan bermodal kalah kepada mereka yang sebetulnya "hanya meminta".Ironis dan bikin nangis.Bayangan wajah yang mengalah,yang ditunggu anak istri dirumah,untuk mendapatkan nafkah membuatku hatiku terperangah dan terpecah pecah.
"Tiap hari ya kayak begitu mas,saya apal",kata penumpang disebelahku.Kebetulan dia pelajo yang tiap hari naik bus."Mungkin penghasilan mereka lebih besar daripada saya",keluhnya.Saya dpt menakar berapa penghasilan para musisi dan para peminta itu.


Sampai saya turun pun,berbarengan dengan pengamen yang turun di pintu depan.Dan pintu belakang 2 orang masuk,salah satunya bawa okulele.Pengamen lagi pikirku.
Sambil menunggu jemputan anak dan istri.Sembari duduk aku lihat beberapa "oleh oleh" untuk anakku.Ada buku cerita harga 5 ribu,ada alat tulis lengkap 10 ribu,dan bakpia jadi jadian 2 ribu.Ternyata lebih besar dari ongkos naik busnya.Tidak apa,masih ada sisa tagihan yang bisa dibawa pulang.
Ketika istriku dan anakku datang.Kuberikan oleh oleh itu.Wajahnya ceria,girang banget wajahnya.Bukan benda yang mahal,tp sesuatu kehormatan bisa memberi kebahagiaan dengan harta yg diperoleh dengan tetap mejaga kehormatan,tidak mencuri dan meminta minta.....


Aku pulang,tegak dan cerah wajah ini harus selalu dijaga.Biarlah wajah ini tetap jadi saksi pada saat hari perhitungan nanti.....wajah yang tetap diselimuti daging,bukan spt wajah seorang peminta minta seperti hadist yang diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma.
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya
Kalikotes 23 Oktober 2015(M Naufal Ramadhan ,genap 4 bulan)




Selasa, 29 Maret 2016

Tiada Sesuatupun yang Sia-sia,Pasti Ada Manfaat



Pada awalnya muncul rasa kecewa,"ah sayang ,mengapa ada yang pecah?".Itu adalah respon awal ,ketika tukang pasang keramik memberi tahu,ada keramik pecah ketika membuka duznya.Dengan spec yg menurutku bagus,kemasan yang kuat dan safety,dan cara membawa yg penuh kehati hatian,rasanya mustahil ada yang pecah.Bayanganku harus keluar uang lagi utk membeli keramik.Di awal sebelum pembelian,sdh diitung secara njlimet antara bidang yang mau dipasang dengan kebutuhan keramik yang mau dibeli.

KEJUJURAN ANAK YANG MENCENGANGKAN



Sumber: Dari rangkuman postingan di FB teman

Kejadiannya sekitar tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SDN 1 Belang Wetan 1. Anak sulung kami yang bernama Haki, duduk di kelas 3 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Haki yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Haki, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.