Minggu, 03 April 2016

Berkendara yang Nikmat Ketika Kita Berysukur

Hari itu tak biasanya anakku menunggu jemputanku tidak bergairah.Ada wajah murung.Ditekuk wajahnya persis aku pada saat aku sedang kecewa.Ada apa rupanya.”Bapak telat lagi ya dik jemputnya?”tanyaku.”Enggak telat”,jawabnya singkat.”Tapi kok murung?”,balasku .”Aku sedang marah ,marah sama temanku dan marah sama bapak”,jawab anakku.Persis juga wataknya denganku waktu kecil.Dapat masalah dari luar ngambeknya ke orang tua.Aku tuntun dia di sudut sekolah yang ada ayunannya.Kuajak dia duduk,”Tolong cerita sama bapak dik mengapa kamu marah sama temanmu kok bapak juga kena marah?”,pintaku agar dia bercerita.



“Aku diejek sama temanku,katanya aku miskin,nggak punya mobil,kalau dijemput hanya pakai motor”,Jawabnya dengan suara tersekat hamper menangis karena emosi.Aku senyum.Tapi kurasa senyum yang pahit.Rasanya jiwa brangasan yang dulu mewarnai hidupku bergejolak kembali.Reaksi spontan,karena ada harga diri yang tercabik .Ingin rasanya aku hardik orang tuanya atau paling tidak akan kuperingatkan gurunya agar mengawasi jangan ada penghinaan diantara murid satu ke murid yang lain.


Astaghafirullah…tersadarlah aku,aku tidak pantas memelihara perasaan marah seperti itu.Ini hanya omongan anak kecil yang tidak tahu dari arti perkataannya.Aku hela nafasku panjang dan kubujuk anakku untuk pulang.”Mari bapak belikan es krim dulu dik”.Anakku mulai tenang mendengar kata es krim.
Sengaja aku belikan 2 sekaligus es krim kesukaan anakku itu di sebuah mini market yang mulai ramai di ujung jalan sekolah anakku.Kulihat dia sangat menikmatinya.”Dik besok temenmu itu mudah2an tidak mengejek lagi kepadamu.Bapak nanti yang akan ngomong ke buguru,siapa yang mengejek temannya akan diikop(dihukum)”,hiburku kepada anakku.Anakku semakin tenang.Tapi bagiku ini belum penyelesaian yang sesungguhnya.Namun tak ada gunanya memberikan penjelasan ke anak dalam keadaan galau seperti itu.Dan kata kata saja tidak cukup untuk meredakan suatu masalah, perlu bukti konkret.Apalagi yang kuhadapi adalah anakku sendiri,yang aku tahu wataknya yang sering pemahaman terhadap suatu masalah berdasarkan dengan apa yang dia lihat dan dirasakan.Bukan dari yang didengar.

 
Kuputuskan untuk pulang.Aku pilih jalan yang sepi.Agar pikiranku yang sedikit terpengaruh ini tdk membahayakan keselamatan kami di jalan.Terus terang ada lamunan di pikiranku.Betapa saat itu aku jadi orang yang bersalah.Nelangsa menggelayuti hatiku.Sebetulnya aku sdh merasa bersyukur dengan kondisiku selama ini yang memang tidak dikaruniai kelebihan materi.Cukup dibilang pas-pasan.Tidak ada yang mempermasalahkan kondisiku tersebut hingga saat ini.Tapi mengapa hinaan justru masuk lewat pintu hati anakku.Perih rasanya hati ini.Seketika itu aku bingung untuk solusi masalah ini.Beli mobil untuk saat ini tidak mungkin.Membuat janji-janji yang bermuatan kebohongan,aku takut.Aku takut anakku jadi tambah kecewa bila kemudian hari ketahuan aku dikenalnya pembohong,tukang pembuat janji palsu.Biarlah apapun resikonya aku lebih bersahaja dan apa adanya di depan anakku.

 
Sesampai dirumah,aku ambil air wudhu.Kutunaikan sholat fardhu.Setelahnya aku berdoa agar diberikan jalan yang terbaik untuk masalahku itu.Aku lebih senang yang demikian.Aku tidak minta mobil pada Tuhan.Karena Tuhan tidak bikin mobil..he..he..ngacau ya pikiranku. Aku tidak minta yang aku inginkan yang bersifat sesaat .Aku cukup minta ketenangan berpikir dan kerendahan hati setiap kali menghadapi masalah..Khusuk sekali waktu itu,damai hati ini karena sudah mengadu kepada yang mengatur kehidupan.

 
Pagi harinya aku ajak jalan anakku ke tempat kakek neneknya.Kelihatan senang anakku menyambutnya.Awalnya jalan kaki karena aku harus ambil sepeda onthelku di bengkeldekat rumah.Hampir 1 km kami berjalan.Dia mulai mengeluh capai.”Bengkelnya masih jauh ya pak?,aku sdh capai “,rengeknya.Aku nggak jawab karena memang sudah sampai di depan bengkel.Ternyata sepedaku sudah jadi.Aku bayar dan aku berkata,”Pak saya beli bantalan jok boncengan itu ya.Tapi nggak usah dipasang nanti aku pasang sendiri”.Pemilik bengkel dan toko itu melongo .Akhirnya anakku aku boncengkan dengan sepeda onthel.Anakku merasa nyaman dengan perubahan dari jalan kaki berganti jadi sepedaanCukup jauh memang sekitar 7 km dari rumahku.”Nah gini pak masak ke tempat simbah kok jalan kaki ya aku capai”,kata anakku dari belakang sadelku.Aku tersenyum.”Jadi begini lebih enak dik?”tanyaku.Langsung dijawab anakku,”betul pak,begini lebih enak”.

 
Hampir 3 km aku kayuh sepedaku dengan semangat.Ngos2an aku tahan.Naik sendirian saja sudah berat apalagi diboncengi anakku dengan menggendong tas dipunggungnya.Namun justru anakku yang mulai mengeluh,katanya pantatnya sakit karena tidak ada bantalan di tempat duduknya.”Pak pantatku sakit,ini boncengannya dikasih bantalan itu to pak”,pinta anakku.Lagi-lagi aku tersenyum.”Ya kalau begitu berhenti dulu”.Anakku turun,sepeda aku pinggirkan.Aku keluarkan dari tas punggung anakku,sebuah spon yang sudah dibalut dengan kain oscar hitam sebagai joknya.Aku keluarkan pula minuman energi dan kuberikan ke anakku.Anakku senang sekali menerimanya.Sementara dia minum aku sibuk memasang bantalan disepedaku.


Anakku membantu memberikan skrup untuk mengencagkan bantalannya.Kolaborasi yang baik bapak dan anak.Selesai pasang bantalannya.Saatnya melanjutkan perjalanan.Anakku sekarang sudah pakai bantalan di tempat duduknya.”Wah sekarang enak pak,pantatku tidak sakit lagi”,seru anakku.”Jadi begini lebih enak dik?”,langsung anakku menjawab ,”betul pak,begini lebih enak”.Dia kuperbolehkan sambil makan kue pisang yang dibawakan ibunya.Kubiarkan ada kenikmatan walau bersepedaAkhirya kami sampai di rumah ibu bapakku.

 
Hari itu kebetulan ada kerabatku yang menitipkan mobilnya di rumah orang tuaku.Wah kesempatan ini pikirku.Kebetulan kuncinya di tinggal.Aku pinjam mobil itu untuk jalan2 dengan anakku.Anakku riang gembira menyambutnya.Kami hanya berdua meluncur ke sebuah kolam renang di kotaku.Sampai hamper seperempat jam anakku begitu nyaman.Gayanya sudah seperti orang kaya.Namun tiba2 ada goncangan di bagian kiri belakang.Mobil melambat sendiri.Aku minggir dan berhenti.Aku turun,langsung aku cek dibagian kiri belakang.Ternyata bannya bocor kena paku.Keluar keringat dingin di tubuhku.Aku panik,karena tidak nyangka akan seperti ini.Tak urung anakku tahu,dia jadi ikut gelisah.Aku sibuk mencari dongkrak yang letaknya saja aku tidak tahu.Maklum belum pernah punya mobil dan belum pernah dapat masalah ban bocor seperti ini.Hampir 15 menit aku baru menemukan letak dongkrak dan ban serepnya.Semakin keringat dinginku keluar sebesar biji biji jagung di wajahku.Bingung masang dongkraknya dan cara ngaturnya.Mau minta tolong yang lewat kok ya malu.Alhamdulillah 20 menit baru bisa menemukan cara masang dongkrak.


Ada tambahan 20 menit lagi untuk mengganti ban sampai selesai.Maklum tidak biasa mbengkel seperti ini.Anakku mulai merajuk,”Kok lama banget to pak,aku sampai lapar nih?”.Astaghafirullah,aku tidak bawa cukup uang untuk ini.Mana harus nambal ban yang bocor tadi.Aku putuskan tidak jadi melanjutkan senang senangku bersama anak.Pulang membawa kecewa di hati anakku walau pergi dengan mobil.
Hampir 4 jam aku meninggalkan rumah orang tuaku pakai mobil tanpa kesan yang manis.Justru bete dengan ban bocor,cari dongkrak,ban serep,dan kunci yang susah.Ganti ban sendiri yang bikin pusing,dan nambal bal di tukang tambal yang sedang antri.Uang pas2an anakku kelaparan.Aku lihat anakku di pangkuan neneknya dengan disuapi makan.Aku dekati karena dia sudah tenang dan kenyang,”Enak ya dik tadi naik mobil?”sindirku.”Enak apaan,jadi nggak bisa renang dan lapar kok enak?”jawab anakku dengan ketus.Inilah kesempatan yang diciptakan Allah untuk sebuah ilmu bagi anakku.”Jadi masih enak naik sepeda tadi ya daripada naik mobil?”.”Iya,nggak lama dan nggak lapar”,jawab anakku.”Tapi lebih enak mana naik motor atau sepeda dik?”tanyaku lagi.”Ya naik motor lebih cepat dan tidak capai”,jawab anakku.”Berarti kalau kamu naik motor sudah tidak malu lagi kalau diejek temanmu yang naik mobil?”,tanyaku lagi menggiringnya untuk kesimpulan akhir.”Ya enggaklah,enak pakai motor kok”,jawabnya sambil bergelayut di gendongan neneknya.Subhanallah..subhnallah…subhanallah.Aku tidak perlu lagi memberinya pengertian tentang keberadaan seseorang.Yang pakai mobil belum tentu lebih enak dari yang naik motor.Dan yang naik motor belum tentu lebih malu dari pada yang naik mobil.Pengertian ini lebih gampang diberikan karena disini anakku jadi saksi setiap kejadian yang dia lihat dan dia rasakan.Bukan dari yang dia dengar.Jadi efektif dengan teladan kejadian daripada mendengar nasehat yang belum tentu dia rasakan.

 
Ada tahapan pelajaran syukur yang kuberikan kepada anakku hari ini.Dia amat wajib bersyukur manakala ada bantalan ditempat duduk di sepeda,ketika telah merasakan sakit pantatnya sebelum ada bantalan itu.Walau tidak ada bantalan di sepeda,betapapun itu lebih nyaman daripada kita jalan kaki.Untuk urusan syukur kita harusnya melihat kebawah,tahapan dimana kita pernah merasakan pahit,bukan ke atas yang belum pernah kita rasakan.Kita tidak bisa menentukan sendiri apa yang jadi kemauan kita.Kita hanya bisa memilih dari beberapa pilihan yang ada di hadapan kita.Semua awalnya ada manisnya,mungkin juga belakangan ada pahitnya.Atau sebaliknya.Tidak ada suatu kondisi yang lebih enak dari kondisi yang lain.Yang penting bagaimana kita bersyukur . .”Boleh jadi kamu benci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi kamu suka sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui”(QS.2:216)


Wawan Irianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar