Ada beberapa teman yang
harus mengeluarkan uang sekitar 30-60 ribu untk bisa melenggang dikawasan 3 in
1 di beberapa ruas di Jakarta di jam jam tertentu di hari selain Sabtu dan
Minggu.Dilakukan karena alasan praktis utk menghindar macet dan memburu
waktu,sementara aturan kendaraan berpenumpang minimal 3 orang,tidak dipenuhi
beberapa kawan tersebut yang selalu sendirian.Uang tersebut diberikan kepada
joki joki yang telah antri di mulut jalan.Dan selalu begitu.
Ada beberapa cakrawala
sudut pandang atas kejadian tersebut.Dari sisi aturan,inilah sebuah ketidak
efektifan sebuah regulasi yang bisa diakali.Sehingga esensi utk menekan jumlah
mobil pribadi dengan tidak memperbolehkan minimnya penumpang di dalam mobil
sia-sia.
Eksistensi joki joki,bagi
para pemilik mobil adalah pemberi kebaikan.Keberadaan joki joki adalah sedikit
memperlancar mereka melintasi Jakarta yang memang luar biasa tingkat
keruwetannya.Hingga uang sebesar itu tak jadi soal untuk tebusannya.
Bagi joki joki tersebut
memang bukan berniat memberi kebaikan kepada para pemilik mobil.Harapan
imbalan,dilakukan setiap hari,dan dilakukan oleh banyak orang adalah penggugur
kebaikan dari pahala.Coba bila mereka pas hari itu saja,secara kebetulan,dan
tidak berniat untuk sebuah uang jasa,pastilah menjadi catatan bagi kebaikannya.
Memang jaman sekarang tidak
ada yang gratis untuk setiap kebaikan.Karena pengorbanan ada di dalamnya,dan
tentu saja kebutuhan.Kebaikan sudah dirancang untuk dapat dilakukan
berulang,dikondisikan,dan ada kalkulasi finansialnya.Bagaimanapun masalah 3 in
1 adalah sebuah rekayasa mengakali aturan yang menciptakan "nafkah"
bagi beberapa orang.Jadi bukan kebaikan.Coba lihat banyak kebaikan yang
dilakukan berbayar seperti itu,walau ada yang menyebutnya sukarelawann.
Adakah kebaikan yang betul
betul baik.Jawabnya ada,walau langka.Karena kebaikan ini adalah tanpa
pamrih,membantu,dan biasanya spontan,tanpa direncanakan.Kalau yang ini jadi
ingat beberapa peristiwa kebaikan yang semacam itu.
Pernah gadgetku tertinggal
beberapa kali,tapi bisa ketemu ketika aku call dan penemu memberikannya kembali
tanpa mau diberi imblan.Tertinggalnya kebetulan di dalam lingkungan
masjid.Mungkin penemu adalah ahli ibadah yang merasa tidak perlu mengambil yang
bukan haknya.
Adakah kejadian kebaikan
diluar rumah ibadah yang bisa ditemui.Tetap ada.
Ada kejadian yang dapat
dijadikan ilustrasi .Pernah di suatu waktu,ketika aku umur belasan.Ketika itu
aku menjadi salesman yang sedang jaya jayanya di waktu itu.Perjalanan antara
Banjar sampai Seririt di Kabupaten Buleleng Bali,ada angkot yang
mengejarku.Teriakan sopirnya berulang ulang.Aku mendengar tapi tidak mengira
kalau dia mengejarku.Ah apa urusannya denganku pikirku.Sampai 4 km angkot trs
melaju kencang dibelakang sepeda motorku yang kencang.Maklum waktu itu sedang
mengidolakan Jony Pranata,Crosser hebat jaman itu.Namun di suatu kesempatan aku
mulai lambatkan lajunya,dan angkot itu menjajariku.Sopirmya menunjuk nunjukku
ketika aku memandangnya.Baru ku menyadari sepanjang perjalanan dia
mengejarku.Cuma ada apa.Aku berhenti.Sambil bersiap kalau ada yang kurang baik
menimpaku."Ada apa pak?" tanyaku.Sopir itu setelah meminggirkan
mobilnya,keluar."Ini milik mas,tadi jatuh di tikungan,mas tidak tahu,terus
saya ambil,mas saya panggil panggil tidak dengar",sopir angkot itu
berbicara dengan huruf T yang tebal khas orang Bali.Astaghfirullah,aku
menyadari ada yang terjatuh rupanya.Isi tasku ada yang jatuh.Ternyata itu
adalah faktur faktur dari barang barang yang ku kirim.Aku lihat masih utuh di
dalam sebuah map plastik.Betapa jadi masalah kalau itu hilang.Segera aku
minta.Dan segera kubuka dompetku untuk sekedar mengganti jerih payah sopir
angkot tadi,dan tentunya sbg tebusan karena aku terhindar dari
masalah."Sudah ndak perlu mas,yang penting ini milik mas kan?",kata
sopir itu sambil menjalankan angkotnya kembali.
Ketika aku ingat kejadian
itu.Betapa baiknya sopir angkot itu.Tanpa pamrih untuk sebuah aksi kejar
kejaran.Berkorban,karena dia pasti tidak menarik penumpang ketika
mengejarku.Dan endingnya dia tidak mau diberi imbalan,walau sebenarnya dia
telah rugi tak dapat ongkos dari penumpang.Tulus dan ikhlas mendengar kata
katanya waktu itu.Pertanyaannya ada berapa banyak orang seperti itu dan adakah
di jaman sekarang.?
Keyakinanku masih ada
kebaikan,kebaikan tidak akan lekang oleh waktu.Ada pribadi pribadi yang
memperjuangkannya.Karena masih banyak pribadi yang mengabadikan kebaikannya
dengan melupakannya...tidak mengungkitnya....dan berharap pahala.
Kalikotes,21 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar