Kamis, 21 April 2016

M E N G A B A D I K AN K E B A I K A N


Ada beberapa teman yang harus mengeluarkan uang sekitar 30-60 ribu untk bisa melenggang dikawasan 3 in 1 di beberapa ruas di Jakarta di jam jam tertentu di hari selain Sabtu dan Minggu.Dilakukan karena alasan praktis utk menghindar macet dan memburu waktu,sementara aturan kendaraan berpenumpang minimal 3 orang,tidak dipenuhi beberapa kawan tersebut yang selalu sendirian.Uang tersebut diberikan kepada joki joki yang telah antri di mulut jalan.Dan selalu begitu.


Ada beberapa cakrawala sudut pandang atas kejadian tersebut.Dari sisi aturan,inilah sebuah ketidak efektifan sebuah regulasi yang bisa diakali.Sehingga esensi utk menekan jumlah mobil pribadi dengan tidak memperbolehkan minimnya penumpang di dalam mobil sia-sia.

Eksistensi joki joki,bagi para pemilik mobil adalah pemberi kebaikan.Keberadaan joki joki adalah sedikit memperlancar mereka melintasi Jakarta yang memang luar biasa tingkat keruwetannya.Hingga uang sebesar itu tak jadi soal untuk tebusannya.

Bagi joki joki tersebut memang bukan berniat memberi kebaikan kepada para pemilik mobil.Harapan imbalan,dilakukan setiap hari,dan dilakukan oleh banyak orang adalah penggugur kebaikan dari pahala.Coba bila mereka pas hari itu saja,secara kebetulan,dan tidak berniat untuk sebuah uang jasa,pastilah menjadi catatan bagi kebaikannya.

Memang jaman sekarang tidak ada yang gratis untuk setiap kebaikan.Karena pengorbanan ada di dalamnya,dan tentu saja kebutuhan.Kebaikan sudah dirancang untuk dapat dilakukan berulang,dikondisikan,dan ada kalkulasi finansialnya.Bagaimanapun masalah 3 in 1 adalah sebuah rekayasa mengakali aturan yang menciptakan "nafkah" bagi beberapa orang.Jadi bukan kebaikan.Coba lihat banyak kebaikan yang dilakukan berbayar seperti itu,walau ada yang menyebutnya sukarelawann.

Adakah kebaikan yang betul betul baik.Jawabnya ada,walau langka.Karena kebaikan ini adalah tanpa pamrih,membantu,dan biasanya spontan,tanpa direncanakan.Kalau yang ini jadi ingat beberapa peristiwa kebaikan yang semacam itu.

Pernah gadgetku tertinggal beberapa kali,tapi bisa ketemu ketika aku call dan penemu memberikannya kembali tanpa mau diberi imblan.Tertinggalnya kebetulan di dalam lingkungan masjid.Mungkin penemu adalah ahli ibadah yang merasa tidak perlu mengambil yang bukan haknya.

Adakah kejadian kebaikan diluar rumah ibadah yang bisa ditemui.Tetap ada.
Ada kejadian yang dapat dijadikan ilustrasi .Pernah di suatu waktu,ketika aku umur belasan.Ketika itu aku menjadi salesman yang sedang jaya jayanya di waktu itu.Perjalanan antara Banjar sampai Seririt di Kabupaten Buleleng Bali,ada angkot yang mengejarku.Teriakan sopirnya berulang ulang.Aku mendengar tapi tidak mengira kalau dia mengejarku.Ah apa urusannya denganku pikirku.Sampai 4 km angkot trs melaju kencang dibelakang sepeda motorku yang kencang.Maklum waktu itu sedang mengidolakan Jony Pranata,Crosser hebat jaman itu.Namun di suatu kesempatan aku mulai lambatkan lajunya,dan angkot itu menjajariku.Sopirmya menunjuk nunjukku ketika aku memandangnya.Baru ku menyadari sepanjang perjalanan dia mengejarku.Cuma ada apa.Aku berhenti.Sambil bersiap kalau ada yang kurang baik menimpaku."Ada apa pak?" tanyaku.Sopir itu setelah meminggirkan mobilnya,keluar."Ini milik mas,tadi jatuh di tikungan,mas tidak tahu,terus saya ambil,mas saya panggil panggil tidak dengar",sopir angkot itu berbicara dengan huruf T yang tebal khas orang Bali.Astaghfirullah,aku menyadari ada yang terjatuh rupanya.Isi tasku ada yang jatuh.Ternyata itu adalah faktur faktur dari barang barang yang ku kirim.Aku lihat masih utuh di dalam sebuah map plastik.Betapa jadi masalah kalau itu hilang.Segera aku minta.Dan segera kubuka dompetku untuk sekedar mengganti jerih payah sopir angkot tadi,dan tentunya sbg tebusan karena aku terhindar dari masalah."Sudah ndak perlu mas,yang penting ini milik mas kan?",kata sopir itu sambil menjalankan angkotnya kembali.

Ketika aku ingat kejadian itu.Betapa baiknya sopir angkot itu.Tanpa pamrih untuk sebuah aksi kejar kejaran.Berkorban,karena dia pasti tidak menarik penumpang ketika mengejarku.Dan endingnya dia tidak mau diberi imbalan,walau sebenarnya dia telah rugi tak dapat ongkos dari penumpang.Tulus dan ikhlas mendengar kata katanya waktu itu.Pertanyaannya ada berapa banyak orang seperti itu dan adakah di jaman sekarang.?


Keyakinanku masih ada kebaikan,kebaikan tidak akan lekang oleh waktu.Ada pribadi pribadi yang memperjuangkannya.Karena masih banyak pribadi yang mengabadikan kebaikannya dengan melupakannya...tidak mengungkitnya....dan berharap pahala.

Kalikotes,21 April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar