Senin, 04 April 2016

Untuk Mati,Kita Tidak Harus Menunggu Tua



Cerita berawal dari rutinitas.Antar jemput anak dapat sarana pengajaran yang bagus.Banyak hikmah disana.Suatu hari ,sperti biasanya,aku menjemput anakku dari sekolah.Sampai di sekolah ,sudah agak sepi.Telat rupanya aku menjemputnya.Ternyata sekolah dibubarkan sedikit lebih cepat dari biasanya.Ada acara mendadak,sehingga sekolah perlu membubarkan kegiatan pelajaran lebih awal,dan akupun orang yang tidak mendengar sebelumnya,maka anakku termasuk belakangan dijemputnya.Anakku tersenyum sambil melambaikan tangan,kelihatan lega.Hatikupun puas,karena anakku tidak marah,berarti pelajaran tentang kesabaran nyambung juga di hatinya.”Maaf ya dik,bapak telat”,permintaan maafku untuk sekedar menanamkan rasa gentle untuk merasa bersalah terhadap suatu kesalahan sekalipun tidak disengaja.”Nggak papa kok pak,kan hanya sebentar”,jawabnya.Clesss…..luar biasa hatiku bergetar dan sejuk didadaku mendengar kata “hanya sebentar”..Anak usia TK sudah berempati agar orang lain tidak merasa bersalah.Subhanallah…subhanallah…..Ya Allah jadikan amanahmu ini selalu dalam bimbinganMu ya Allah.

Kugandeng tangannya,kuberikan helm untuk dipakainya,dan kusuruh membonceng di belakang sepeda motorku.Sepeda motor yang belum lama lunas kreditnya ini melaju menuju ke rumahku.Di tengah jalan kudengar suara iqamah dari masjid yang kulalui.Aku rem untuk mengurangi kecepatannya.Dan kutoleh belakang sambil berkata,”Dik kita ke mesjid itu ya,kita jamaah sholat,nggak papakan?”.Anakku,”ya ndak papa pak”.Aku tepikan kendaraan,mencari tempat yang teduh agar cat motorku ini tidak segera pudar.Aku turunkan anakku cepat2.Segera ke tempat wudhu.Selesai kami wudhu kami masuk ke mesjid,kulirik ada beberapa muslimah yang sudah tidak muda lagi di shaf paling belakang.Di bagian depan beberapa bapak yang sudah uzur berdiri di belakang imam yang tak kalah tuanya.Aku dan anakku menutup shaf yang renggang.Kuikuti seluruh rukun sholat dengan khidmat sampai salam.Begitu hening,yang terdengar hanya bisikan dzikir yang tulus dari para jamaah.

Kulihat anakku juga menengadahkan tangannya,berdoa.Entah apa bentuk doanya.Mungkin dia berdoa untuk dirinya sendiri.Sayup terdengar dari mulut anakku,”Ya Alloh mudah2an aku bisa sekolah dan semoga ibu bapakku sehat”.Kaget aku mendengarnya.Kulihat ekspresi wajahnya yang polos aku yakin itu doa yang tulus.Bibirkupun mengucap Aamiin.Tak terasa air mataku menetes.Haru,sedih,bahagia campur aduk jadi satu.Bagaimana aku tidak terharu,anak sekecil itu sudah tahu cara menjadi anak sholeh dengan cara mendoakan orang tuanya.Dan aku sedih,keinginan untuk tetap sekolah sampai tinggi di tengah beaya sekolah sekarang yang Walahualam bisa terjangkau oleh bapaknya yang pegawai rendahan ini.Dan aku bahagia,ada semangat yang luar biasa di dada anakku untuk menjadi orang yang berilmu.

Dengan menyembunyikan wajahku,kuusap air mataku.Tapi tak urung anakku tahu,”bapak menangis ya?”Tanya anakku,”Iya dik bapak terharu melihat kekhusukan bapak2 dan ibu2 itu”,aku berbohong.Aku nggak mungkin terus terang denganmu nak.Aku Tidak mau kau bersedih dengan penjelasanku.Biarlah orang tuamu saja yang memikul yang jadi kesulitan kita nak.”Mereka sudah pada tua ya pak,jadi harus rajin sholat ya pak?”Tanya anakku memecahkan lamunanku.”Iya dik,mungkin juga dik,tapi harusnya setiap muslim yang sudah baliq bisa seperti itu”.Anakku menambahkan,”kalau yang sudah tua memang akan segera meninggal,biar masuk surga”.Aku tercenung mendengar kata2 anakku ini.Tidak kusanggah,biar dia berpikir dengan pemahamannya sendiri.”Ya sudah dik mari kita pulang,bapak sudah lapar nih”,ajakku sambil memberi selembar uang kepada anakku agar dimasukkan ke dalam kotak infaq.Anakku semangat menuju kontak infaq,dan memasukkan uang ke dalamnya.Kamipun pergi meninggalkan mesjid itu.

Aku melewati jalan biasa yang kami tempuh .Sebuah jalan besar satu track yang dilalui kendaraan besar.Dari jauh kulihat ada kerumunan orang dipinggir jalan.Apa razia ya?.Ah tenang saja kami komplit kok.Surat2 ada,perlengkapan OK,kami berdua pakai helm pengaman,dan tak lupa menyalakan lampu.Semakin dekat semakin jelas apa yang terjadi.Ada kecelakaan lalu lintas.Ada yang menuntun sepeda motor yang ringsek untuk ditepikan.Aku sebetulnya tidak ingin menyaksikan setiap kejadian yang berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas.Ngeri rasanya melihat darah berceceran, orang kesakitan atau bahkan sedang meregang nyawa.Aku pelan2 jalankan motorku dan memilih jalan yang bisa dilalui.Maksudnya biar segera bisa melewatkan kejadian tersebut.Namun aku dibuat kaget dan spontan aku menyeru”Astagfirullah3x”,aku dan anakku melihat mayat bocah dan kakaknya yg belum ditutupi apapun diletakkan ditempat yang justru aku lewati.Aku dan anakku melihat dengan jelas.Pikiranku menerawang kemana mana,bayangan kesedihan keluarga korban,rasa takut karena kejadian itu bisa menimpaku karena aku juga sering naik motor dijalan,membuatku pelan-pelan dan sangat hati2 .Rasa laparku hilang seketika melihat 2 mayat tadi.”Inna lillahi wainaillaihi ro’jiun”,sesungguhnya kita dari Allah dan akan kembali padaNya’.Aku paham dng akhir dari sebuah kehidupan,yaitu kematian.Tapi kadang tdk bisa kuterima bagaimana orang harus mati dengan cara setragis itu.Sungguh kematian dan rangkaian prosesnya adalah rahasia Sang Khalik.

Akhirnya tiba juga aku dan anakku di sebuah rumah kecil dikawasan sederhana .Itulah sebuah tempat dimana kami tidur sehabis lelah mencari nafkah.Tempat kami membangun kebersamaan.Tempat kami memberitahukan kepada orang lain bahwa kami layak menyandang predikat sebuah keluarga. Aku,istriku dan anakku sangat bangga dan bahagia memiliki rumah ini karena kami beli dengan tetesan keringat kami,dari proses pencarian yang halal.”Asalamualaikum”,sapa anakku kepada ibunya,”Waalaikumsalam”,sahutan dari dalam ,”Wah anak ibu sdh pulang,tadi pasti semangat ya di sekolah,sholeh sama guru dan teman ya”,ibunya memborbardir pertanyaan,sementara anakku membisu terpukul dengan peristiwa yang dilhatnya.

“Lhok kok adik diam saja,marah ya?”.Penasaran juga istriku melihat perubahan anakku yg tdk seperti biasa.”Bu tadi aku lihat orang meninggal,kecelakaan.Anak kecil dan kakaknya meninggal,kasihan ya”,sambil berkaca2 matanya anakku menceritakan peristiwa kecelakaan itu.Istriku berdiri mematung sembari memegang 2 gelas berisi jus jambu untukku dan anakku.”Inna lillahi wainnaillaihi ro’jiun”,bisiknya.Setelah melepas sepatu dan berganti baju aku duduk diantara anak dan istriku.Aku minum jus jambu yang sudah berada di tanganku.Aku cerita dari awal penjemputan anakku yang terlambat,sholat dengan jamaah yang sdh uzur sampai melihat mayat anak kecil dan kakaknya di dalam kecelakaan itu.Anak dan istriku diam merenung.Emosi telah memainkan pikiran mereka.Nah kesempatan seperti ini aku gunakan untuk memberikan sedikit ilmu kepada anakku.”Sekarang bapak mau jawab pertanyaanmu di mesjid tadi dik.Adik tanya mengapa yang sholat atau yang tekun menjalankan ibadah adalah karena sudah tua dan akan meninggal.Ingatkah tadi waktu kecelakaan,yang meninggal adalah anak kecil dan kakaknya yang juga masih muda.Jadi urusan mati adalah Rahasia Allah yang tidak terbatas.Orang bisa mati kapanpun dan dimanapun,dan dalam kondisi apapun”.

Kulihat wajah anakku,aku ingin tahu seberapa jauh dia paham tentang penjelasanku.”Jelas nggak dik?”.”Jadi tidak harus tua dulu kalau mau meninggal?”tanyanya.”Betul sekali dik,padahal Allah akan perhitungkan semua amal manusia sewaktu mereka hidup di dunia.Kalau amal kita banyak di dunia ini,kita tidak takut mati.Tapi coba kalau amal kita sedikit atau bahkan dosanya yang lebih banyak,bagaimana kita mempertanggungjawabkan di hadapan Allah nanti”.Aku lirik lagi raut muka anakku ini,”Berarti kita harus rajin sholat ya pak, tidak harus nunggu tua dulu ya pak,karena kita bisa meninggal kapanpun?”,katanya seolah ingin menerangkan.Subhanallah…subhanallah..subhanalllah…..anakku sudah bisa menarik sebuah kesimpulan.”Jadi untuk sholat dan ibadah jangan ditunda2 ya dik.Masih muda malah lebih bagus.Karena Allah lebih menyukai anak muda yang rajin beribadah daripada orang yang sudah tua yang rajin menjalankan ibadah”.Aku tak tahu ini menjadi pelajaran berharga atau sesuatu obrolan biasa bagi anakku.Tetapi karena ini adalah rangkaian kejadian yang disaksikan langsung oleh anakku,aku berharap nasehat ini mengendap di alam bawah sadarnya.Dan aku sangat berharap pelajaran yang bersifat empiris ini lebih membekas di kalbu anakkuYa Allah sungguh Engkau Maha Bijak dengan membuat scenario kehidupan ini,aku jadi mudah memberikan contoh kasus bagi anakku.Wallahualambishawab

Kalikotes,Klaten,16 April 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar