Kamis, 21 April 2016

Jadilah Pejuang Kemanusiaan Anak anakku


Setiap kali melihat kedua jagoanku,ada perasaan luarbiasa betapa beruntungnya saya punya keduanya.Kehadiran mereka yang ditandai waktu waktu yang relatif lama dalam penantian dan upaya upaya yang rumit dan tuntas merogoh kocek kami,membuat kesenangan hati ini berlipat lipat.


Airmata,perasaan tertekan,capek karena harus berburu alternatif seakan jadi bumbu puncak bahagia saat ini.Kami orang tuanya merasa tidak ada yang salah dengan rencana Tuhan.Kami tak takut pada saat mereka besar dan butuh biaya banyak,kami orang tuanya mulai menua dan lemah.Rencana Tuhan tak pernah salah.Yang sering salah adalah kita tidak mengimaninya.

Kini yang besar tumbuh jadi anak yang sederhana,dan pemalu.Dan yang kecil lewat upaya rumit di sebuah klinik fertilisasi di Solo,dan lahirnya harus dicesar.Yang kecil tumbuh dangan pemberian ASI eksklusif,berbeda dengan kakaknya yang tidak memperolehnya.Hal hal begini kami sampaikan kepada yang besar untuk tidak dicemburui.Alhamdulillah bisa menerima dan sayangnya dahsyat seorang kakak kepada adik.

Banyak perilaku teladan yang diberikan kakaknya terhadap adiknya,sampai kami terharu melihatnya.Mulai dari adiknya lahir didunia ini.Kakaknya yang pertama kali menceboki ketika adiknya BAB.Di tengah malam,tidak jijik,menahan ngantuk,dan ingin ibunya yang masih kesakitan habis operasi cesar dan bapaknya bisa istirahat.Airmata kami deras sekali jatuhnya.Sampai sekarang itu dilakukannya manakala kami sedang repot mempersiapkan yang lainnya.

Pernah pada suatu ketika pagi,waktu dia sarapan,ibunya pas mempersiapkan bekal untuknya,saya sedang mengemas produk jualan kami yang mau dikirim,adiknya terdengar menangis,sedang BAB ternyata.Dengan sigap kakaknya mengurusnya,membersihkannya,detail sekali ,dan menggantikan popoknya....beres,dan ia kembali melanjutkannya sarapannya.Terharu dan menyesal rasanya.Menyesal kadang saya membentak dan memperlakukan dengan kasar.Tubuhnya yang kurus dan rintihannya yang mohon ampun kadang tertutup oleh rasa kesal saya.Sebagai anak anak kenakalan dan perbuatannya sering bikin jengkel.Mohon maaf bapakmu ini ya mas.

Seusai keadaan,kami mendidik anak untuk bisa mandiri.Kami kadang bawain dagangan yang kami punya.Kue produk ibunya.Atau sambel welut .Awalnya malu.Saya terus motivasi dia ,pengusaha semacam CT,JK,dan yang lainnya berawal dari menahan rasa malu.Mereka berdagang di usia yang sangat muda.Jangan dipikir laku atau tidak,yang penting tawarkan.Semua adalah ihktiar,jangan mikir hasilnya dulu.Sehingga temannya pada ngerti kalau butuh kue dan sambel ,anakku yang besar ini dapat pesanan.Alhamdulillah proses branding telah berhasil.

Uang hasil penjualan dengan disiplin diberikan kepada kami.Kami buatkan tabungan sendiri.Bukunya kami pegang.Segala uang yang dia terima baik karena hasil menjual,pemberian kerabat,nenek,teman teman orang tuanya dia kumpulin dan dimasukkan ke tabungan.

Hingga suatu hari,dia memberanikan diri kepada ibunya ,mau ambil tabungan untuk beli gadget.Alesannya biar kalau pulang tinggal sms atau call,tidak terlambat yang jemput.Heheheh....alasan yang dibuat buat dan tidak urgent.Kami tahu ini hanya karena pingin seperti teman2nys yang sudah pada punya.Bisa ngegame bisa bikin group,bisa eksis di medsos.Yah anak anak seusia anak kami yang besar memang sudah banyak yang dipegangi HP sama ortunya.

"Mas kalau hanya masalah pulang,atau pas antar jemput,bapak ibu Insya Allah bisa on time,jangan kuatir.Jangan buat buat alasan untuk bisa membeli HP ya.Kamu pasti mau ngegame.Kamu blm waktunya pakai HP,bisa terpengaruh hal hal jelek yang ada di konten internet.Ingat uang tabungannya mas itu untuk persiapan sekolah,bla..bla...dst.",demikian pidato ibunya.

Tidak ada perlawanan dari anakku.Hanya kulihat wajah kecewanya.Memelas.Tapi kami tidak boleh kalah oleh hal hal yang demikian.Sepanjang tidak urgent dan kebetulan mahal ,kami bersikukuh untuk bertahan.Kami bukan orang pelit,tapi kami ingin menghargai segala susah payah kami dengal hal hal yang penting dan mendesak.

Hingga suatu saat ,anakku murung sehabis pualang sekolah.Mengurung diri dikamar.Ditanyain ibunya katanya agak tidak enak badan.Aku masuk ke kamarnya,"Mas ada sesuatu yang disembunyikan ya,terus terang sama bapak dong,siapa tahu bapak bisa bantu.".Anakku menatap saya,"Pak,untuk tabungan,itu kan saya yang nabung,berarti itu uang saya ya pak?".Saya mengangguk sambil berpikir antisipasi cari alasan kalau dia minta dibelikan gadget lagi,"iya,kenapa mas?".Anakku menjawab,"kalau saya ambil sedikit boleh?".Saya tercenung dan lama memberi respon,kelihatan keberatan.Anakku meneruskan kata katanya," ya udahlah pak kalau begitu,kalau kemarin tdk beli HP tidak diijinkan,tapi ini mosok saya mau nraktir teman teman,gantian pak,saya sering ditraktir.....hanya 100 ribu saja utk beli bakso ber 6"........deg serasa palu godam menimpaiku.

"Nak ,kami orang tuamu melarang kamu utk hal hal yang boros dan tidak penting.Kami menjagamu agar hemat dan tidak cinta dunia.Untuk hal hal kesetiaan,toleransi,menolong yang lemah,bapak dan ibu dengan segala keterbatasan akan bantu kamu seluas luasnya".Saya ulurkan 100 ribu dari penjualan sambel hari ini,"boleh kamu traktir temanmu,ini uangnya,bapak besok tinggal ambil ditabunganmu 100 ribu ya".

Ya Allah,bantu kami mendidik anak kami dengan kesederhaan.Bantu kami mengajarinya tentang kesetiaan.Bimbing anak kami punya empati pada yang lemah.Ajari kami mendidik anak jadi bijak menyikapi perbedaan.Ya Allah beri kami umur panjang yang sehat dan berkah untuk menyaksikan anak anak kami menjadi pejuang kemanusiaan yang tangguh dan rendah hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar