Ku hentikan laju sepeda motorku di sebuah mesjid di perbatasan kotaku dengan kabupaten sebelah.Terdengar adzan.Saatnya untuk selalu memenuhi panggilannya.Jaket jeans yang tidak begitu lusuh kulepas dan kusandarkan di stang kemudi,menutup helm yang sebelumnya kucantelkan dikaca spion.Sesaat kemudian ku berjalan ke serambi mesjid,dan segera duduk.Tarik nafas panjang.Sembari melihat sekeliling.Beberapa mata memandang agak aneh.Dipikirnya monster aku ini.Dari pakaiannya jelas berbeda denganku.Aku hanya pakai kaos ketat,celana jeans kesukaanku,dan sepatu boot kulit.Sedang mereka pakai jubah panjang,celana kain yang tidak menutup mata kaki.berkopiah dan berjanggut.
Apa mungkin pakainku yang jadi perhatian mereka.Pakaian yang cocok untuk anak jalanan bukan untuk datang di rumah ibadah.Atau kah sebetulnya sedang heran ada anak jalanan mau datang ke mesjid saat tepat terdengar suara adzan.Ah aku tidak ambil pusing.Yang jelas pakaianku saat kukenakan dalam keadaan bersih,dan saat ini belum terkena najis.Ilmuku yang masih belum banyak tentang agama,tetap membuatku yakin bahwa sepanjang tidak ada larangannya,berarti boleh.Niatku yang hanya tertuju mencari Ridho Allah saja yang selalu membuatku tetap istiqomah untuk seperti ini.
Sholat ashar telah kutunaikan.Dan aku liat kanan kiriku,pakaian mereka adalah standar ahli ibadah pada umumnya.Biar saja.Saat diserambi,ketika aku mulai menali sepatu ada yang menyapaku."asalamualaikum ,antum juga sholat juga di sini ya",sebuah suara yang tidak asing tapi aneh.Tidak asing karena aku mengenal sebelumnya ,aneh karena begitu fasih menyebut antum untuk menyebut kamu.Aku tersenyum,ternyata teman lama yang berubah alim dan tinggal di sekitas masjid itu,"iya bro,pas kebetulan nih,lewat pas datang waktunya sholat".
Ngobrol kami jadi lama,dan aku harus menunda melanjutkan perjalanan."Antum tuh harusnya merubah penampilan,kan sudah ahli ibadah juga kan".Aku kaget lagi,tapi tetap santai,ini pasti ajakan yang bagus soalnya."Iya nih bro,aku masih pede kalau pakai gini,sdh kadung jadi kesukaan sih",jawabku ringan."Antum gak bisa begitu,pakaian mencerminkan perilakumu".Aku tersenyum,tidak mau berdebat.Pasti kalah soalnya kalau sudah begini.Apalagi malu dilihat beberapa jamaah yang juga belum pada pulang.Saat puasa banyak yang menghabiskan waktu sore sembari menunggu saatnya buka puasa.Biarlah kudengar nasehat temanku ini.Suka atau tidak suka harus kudengar.Mungkin dia perlu jam terbang untuk bisa jadi orang yang suka menasehati orang.Kubiarkan saja.
Kulihat di seberang jalan ada suami istri yang menggendong anaknya sedang menuntun sepeda motornya.Berhenti celingak celinguk.Kelihatannya ban sepeda motornya bocor.Tidak ada yang menyapa bahkan berusaha untuk menolongnya.Ironis.Sesaat di depanku,temanku hanya melihat sekilas dan melengos,untuk kembali menasehatiku.Tapi aku sudah tidak begitu jelas mendengarnya.Perhatiaanku tertuju pada bapak ibu dan anak itu."Bro ,bentar ya",ijinku pada temanku."Pak,bocor ya bannya?"tanyaku.Bapak itu menjawab,"iya mas,tukang tambal bannya masih jauh gak ya?",dia balik tanya.Aku segera tanya temanku,sekedar menanyakan tukang tambal ban terdekat.Akhirnya ditunjukkan dirumah penduduk yang biasa nambal ban di rumahnya.Agak jauh rupannya.Temanku sudah berjasa memberi info,tapi tidak untuk sebuah penyelesaian sebagai bentuk pertolongan.Motor ku kupinjamkan bapak itu untuk memboncengkan istri dan anaknya,aku menuntun bapak itu.Temanku ternyata mau ada acara katanya.Syukurlah ,paling tidak aku bebas dari berondongan nasehatnya.
Aku masih bersyukur.Dengan pakaian dan pembawaanku seperti ini masih dipercaya untuk mendapat ladang pahala.Tapi aku merenung,apakah amalku ditolak karena aku belum sealim temanku itu.Belum berpakain seperti dia,belum selancar mengucap bahasa arab.Ah biarlah.Tak terasa sampai dirumah tukang tambal ban itu.Pas.Karena dia telah menyelesaikan nambal juga.Maka segelah digarap motor punya bapak itu.Aku nunggu dan ngobrol dengan bapak itu.Yah sambil sekedar tarik nafas yang ngos ngosan.Ketika mau beranjak pulang,kulihat ada tayangan televisi di tukang tambal ban itu.Sebuah berita persidangan kasus pidana perkosaan dan perampokan.Kulihat empat tersangkannya kelihatan alim.Berpakain gamis dan berkopiah.Astaghfirullah.
Mana temanku tadi,mana temanku tadi.Tidak untuk aku ajak debat.Hanya sekedar membela diri,apa yang aku pakai tidak ada hubungannya dengan perilakuku.Aku bertindak ingin baik baik saja.Kalau pakaianku belum baik menurutku temanku itu,biarlah Allah yang menilaiku.Dan sebaliknya pakaian yang baik hanya untuk menutupi kelakuannya yang tidak baik.Allah juga yang menghukumnya.Sungguh manuisa tidak boleh gegabah menilai manusia yang satu dangan manusia yang lainnya.Hanya karena pakainnya.
Kalikotes,25 Juni 2016
Wawan Irianto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar