Rabu, 21 Maret 2018

Cerita Tentang Isi Bantal

Pada suatu sekolah dasar hiduplah seorang guru matematika pendiam.Mungkin dapat dikatakan agak angker karena jarang senyum ,tanpa banyak kata kata yang keluar.Pembawaan ataukah tuntutan profesi yang harus diperankan .Membimbing anak anak haruslah penuh dengan keseriusan dan tidak sembarang keluar kata kata yg tidak berguna.
Sebelum pulang ,guru ini kerap menahan muridnya utk tidak segera pulang.Ada semacam pertanyaan yang dia tujukan sehubungan dengan pelajaran yang disampaikan hari ini.Dia catat semua informasi yang didapat dari murid yang dia panggil.
Tiap hari setelah selesai mengajar dia memantau perkembangan anak anaknya.Dituliskannya perkembangan setiap muridnya pada masing masing buku.Tentang perangai murid2nya hari ini,tentang apa apa yang dilakukan,tentang kenakalan,tentang sesuatu yang positif yang dilakukan,tentang interaksi satu sama lain setiap muridnya.Detail dan tanpa terlewatkan.Mungkin inilah yang membuat guru ini terkesan acuh tak acuh,tak banyak cakap,bahkan terlihat angker.
Selesai menyelesaikan pekerjaannya,dia bersantai sambil memeluk yang bertuliskan “siapa yang bersungguh sungguh dia akan berhasil”,hasil sulaman sederhananya di sarung bantal itu.Sesekali dia baca dan diremasnya bantal yang empuk berisi semacam kapas , sambil tersenyum ,sebuah senyuman yang jarang ditontokan ke orang.Mungkin dia sedang membayangkan keberhasilan murid muridnya karena mereka bersungguh sungguh dengan mengasah talentanya.
Namun tak urung apa yang dilakukan guru itu membuat salah satu ibu dari muridnya penuh curiga.Karena beberapa kali anaknya terlambat pulang.Dia mulai kasak kusuk ke orang tua yang lain,bahwa ada yang tidak beres dengan guru ini.Suatu kali ibu ini menyelidik mengapa anaknya belum pulang juga ,sementara yang lain sudah pulang.Dia datangi ruang kantor guru itu.Pas diujung pintu, dia mendengar guru itu,”kamu bawa lengkeng berapa Andi?” tanya nya kepada murid yang bernama Andi itu,dan anak itu segera menjawab ,”saya bawa 35 buah bu”.Ibu itu terus berkata lagi “coba ibu dikasih yang 17,sisanya kamu”.Ibu anto yang diluar mendengar tidak masuk ke ruang guru tersebut.Hatinya yang dipenuhi prasangka,penuh marah dan segera meninggalkan sekolah itu.
Sementara guru itu melanjutkan,”berapa kelengkeng buatmu ? Andi murid klas 1 SD itu segera berhitung kelengkeng,satu...dua...tiga....dst sampai angka 17 untuk diberikan ke gurunya.”Nah sekarang kamu hitung kelengkeng untuk kamu.Diulanginya cara yang seperti tadi...dia hitung lagi dari satu...dua...tiga....sampai hitungan terakhir 18.”Jadi berapa kelengkeng untukmu andi ?.Andi menjawab,”delapan belas bu?”.Guru itu tersenyum dan menulis catatan di buku khusus untuk andi.Guru itu menyodorkan soal matematika ke Andi, 13 + 19 =.....Andi tertegun melihat tulisan itu.Guru itu membantu menerangkan maksutnya.Andi agak kesulitan mengartikan soal berupa angka itu.Guru itu tidak kurang akal membuat perumpamaan soal itu....”Andi jika ayah kamu nanti pulang membawa jambu sebanyak 13 dan bersamaan dengan itu pamanmu yang luar kota juga membawa jambu sebanyak 19 berapa jambu yang kau miliki?”.Mendengar kalimat dari gurunya,segera Andi meraih spidol untuk menggambar jambu sebanyak 13 di baris pertama,dan menggambarnya kembali di baris kedua sebanyak 19.Kemudian diitung semuanya,sambil komat kamit mulutnya ,hingga kata terakhir adalah kata tigapuluh dua ....”Jambu saya tigapuluh dua bu”.Guru itu lagi lagi keluar senyumnya yang selama ini langka.Tersenyum karena guru itu jadi ngerti cara mengajar kepada Andi,dan yang membuat dia tertegun cara andi menyimpulkan soal matematika dengan logika yang benar.Terlebih caranya menggambar jambu sebanyak 32,secara bentuk sangat mirip dan semua hampir sama.Selain berbakat menggambar ,Andi dicatat oleh guru itu sebagai murid yang mempunyai konsistensi ilustrasi yang ingin dia kemukakan.Setelah disuruhnya Andi pulang,dituliskannya catatan tentang Andi di buku khususnya.
Sementara itu,ibu Andi yang penuh prasangka dan kemarahan membuat gosip ke teman temannya sesama orang tua.”Oh ternyata sifatnya yang aneh itu memang perlu dilaporkan,masak murid sendiri di palak dimintain bekalnya”. “ah masa sih bu????” tanya beberapa temannya.”Lho saya itu dengar sendiri waktu dia minta kelengkeng bekal anakku”.Rupanya cara bercerita dan ekspresi ibu itu memancing dan mempengaruhi orang tua yang lain.Sehingga omongan itu jadi meluas dan viral.Kata ibu guru memalak jadi hot line di sekolah itu dan bisa jadi menyebar keluar karena saktinya peran medsos.Sungguh masalah klasik yang terulang.Hanya karena pengertian sepenggal dan tidak pernah dikonfirmasi,timbul asumsi yang membunuh karakter seseorang.Fitnah.
Sampailah gosip dan berita fitnah itu di telinga guru itu.Bagaikan samber geledek di siang bolong.Syok dan efek kejut luar biasa menghujam jantung.Sifatnya yang pendiam hanya bisa memendam rasa.Diberikanlah semua buku catatan murid muridnya ke Kepala Sekolah sembari menyampaikan apa sebenarnya yang terjadi,Tidak kurang dan tidak ditambahi.Dia pamit untuk tidak mengajar.Baginya sulit untuk berdebat,Biarlah Kepala sekolahlah yang menyampaikan pembelaannya kepada orang tua murid.Dia ingin istirahat agar rasa sakitnya sembuh oleh waktu .
Suatu hari,Kepala Sekolah memanggil secara khusus Ibu Andi.Tanpa harus menginterograsi ,dia perlihatkan catatan rinci guru itu kepada Ibu dan ayahnya Andi.Dibacanya halaman sesuai tanggal ibu itu mendengar percakapan guru dan Andi tentang kelengkeng.”Tolong ibu baca dan ibu camkan,laporan dari guru itu begitu detail dan sistematis.Dia guru profesional yang mengerti kebutuhan,kesulitan ,dan solusi untuk anak ibu.”,perintah kepala sekolah.Tertulis disitu -Andi anak yang luar biasa,kesulitan memahami tulisan berapa angka,tapi logika verbalnya kuat,kemampaun ilustrasinya hebat,operasi matematika dipahaminya dengan menghitung kelengkeng,dan menggambarkan sebuah jambu dengan bagus dan menyenangkan.Saran untuk Andi,metode nya harus diajarkan dengan bercerita sambil dijelaskan tentang cara memahami simbol simbol angka,harus diasah kemampuan menggambarnya karena dia berbakat dan konsisten terhadap bentuk dan garis.Semoga Andi menjadi orang yang hebat karena kemauan bukan kecerdasan bawaan.Demikian saran di dalam buku khusus untuk andi.
Berlinanglah air mata ibu itu.Perasaan bersalah dan menyesal jadi satu.Sesenggrukan didada suaminya,dan merasa malu ada kepala sekolah di depannya.Kepala sekolah menyerahkan sebuah bantal kesayangan guru itu,bantal yang bertuliskan “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil”.Kepala Sekolah itu berbicara,”bantal itu khusus diberikan untuk Andi,agar andi mengingat dan melakukan perintah sesuai tulisan itu,ini bantal kesayangan guru itu”.Semakin keras dan menjadi jadi tangis ibu.Dia meronta meronta ingin segera ke tempat guru anaknya untuk minta maaf,dan menyampaikan penyesalan.Dia merasa berdosa telah melakukan fitnah kepada guru itu.
Kepala sekolah itu berbicara,”mungkin beliau bisa memaafkan ibu,tapi untuk melupakannya saya gak janji bu.Coba ibu keluarkan isi kapas itu dari bantal itu.Lalu ibu jatuhkan ke bawah sana.Biarkan terbaran kemana mana karena tertiup angin”.Ibu itu melongok tak mengerti maksutnya “ok tidak apa apa pak sepanjang kesalahan saya bisa dimaafkan oleh guru itu,akan saya lakukan apapun yang diminta”.Kepala sekolah itu kembali tersenyum ,”tapi maukah ibu mengumpulkannya kembali dan tetap utuh?”.Ibu yang kerap menggunakan emosi itu menyahut ,’itu mustahil pak namanya,mana bisa saya mengumpulkan secara utuh kapas yang telah bertebangan itu”.Sambil menepuk pundak ibu itu Kepala sekolah berbisik ,”seperti itulah yang anda lakukan kepada guruitu ,menebar gosip dan fitnahnya terbang kemana kemana,dan anda sekarang kesulitan menariknya”.
Hari itu ibu Andi belajar tentang isi Bantal.Bantal yang luarnya tertulis sebuah motivasi,dalamnya mengandung filosofi yang kuat.Dan saat itu juga bantal seistimewa apapun tidak mampu membuatnya tidur nyenyak.Galau dan menyesal.


Wawan Irianto
Kalikotes,26 April 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar