Pada suatu sekolah dasar hiduplah seorang guru matematika
pendiam.Mungkin dapat dikatakan agak angker karena jarang senyum ,tanpa banyak
kata kata yang keluar.Pembawaan ataukah tuntutan profesi yang harus diperankan
.Membimbing anak anak haruslah penuh dengan keseriusan dan tidak sembarang
keluar kata kata yg tidak berguna.
Sebelum pulang ,guru ini kerap menahan muridnya utk tidak segera
pulang.Ada semacam pertanyaan yang dia tujukan sehubungan dengan pelajaran yang
disampaikan hari ini.Dia catat semua informasi yang didapat dari murid yang dia
panggil.
Tiap hari setelah selesai mengajar dia memantau perkembangan
anak anaknya.Dituliskannya perkembangan setiap muridnya pada masing masing
buku.Tentang perangai murid2nya hari ini,tentang apa apa yang dilakukan,tentang
kenakalan,tentang sesuatu yang positif yang dilakukan,tentang interaksi satu
sama lain setiap muridnya.Detail dan tanpa terlewatkan.Mungkin inilah yang
membuat guru ini terkesan acuh tak acuh,tak banyak cakap,bahkan terlihat
angker.
Selesai menyelesaikan pekerjaannya,dia bersantai sambil memeluk
yang bertuliskan “siapa yang bersungguh sungguh dia akan berhasil”,hasil
sulaman sederhananya di sarung bantal itu.Sesekali dia baca dan diremasnya
bantal yang empuk berisi semacam kapas , sambil tersenyum ,sebuah senyuman yang
jarang ditontokan ke orang.Mungkin dia sedang membayangkan keberhasilan murid
muridnya karena mereka bersungguh sungguh dengan mengasah talentanya.
Namun tak urung apa yang dilakukan guru itu membuat salah satu
ibu dari muridnya penuh curiga.Karena beberapa kali anaknya terlambat
pulang.Dia mulai kasak kusuk ke orang tua yang lain,bahwa ada yang tidak beres
dengan guru ini.Suatu kali ibu ini menyelidik mengapa anaknya belum pulang juga
,sementara yang lain sudah pulang.Dia datangi ruang kantor guru itu.Pas diujung
pintu, dia mendengar guru itu,”kamu bawa lengkeng berapa Andi?” tanya nya
kepada murid yang bernama Andi itu,dan anak itu segera menjawab ,”saya bawa 35
buah bu”.Ibu itu terus berkata lagi “coba ibu dikasih yang 17,sisanya kamu”.Ibu
anto yang diluar mendengar tidak masuk ke ruang guru tersebut.Hatinya yang
dipenuhi prasangka,penuh marah dan segera meninggalkan sekolah itu.
Sementara guru itu melanjutkan,”berapa kelengkeng buatmu ? Andi
murid klas 1 SD itu segera berhitung kelengkeng,satu...dua...tiga....dst sampai
angka 17 untuk diberikan ke gurunya.”Nah sekarang kamu hitung kelengkeng untuk
kamu.Diulanginya cara yang seperti tadi...dia hitung lagi dari
satu...dua...tiga....sampai hitungan terakhir 18.”Jadi berapa kelengkeng
untukmu andi ?.Andi menjawab,”delapan belas bu?”.Guru itu tersenyum dan menulis
catatan di buku khusus untuk andi.Guru itu menyodorkan soal matematika ke Andi,
13 + 19 =.....Andi tertegun melihat tulisan itu.Guru itu membantu menerangkan
maksutnya.Andi agak kesulitan mengartikan soal berupa angka itu.Guru itu tidak
kurang akal membuat perumpamaan soal itu....”Andi jika ayah kamu nanti pulang
membawa jambu sebanyak 13 dan bersamaan dengan itu pamanmu yang luar kota juga
membawa jambu sebanyak 19 berapa jambu yang kau miliki?”.Mendengar kalimat dari
gurunya,segera Andi meraih spidol untuk menggambar jambu sebanyak 13 di baris
pertama,dan menggambarnya kembali di baris kedua sebanyak 19.Kemudian diitung
semuanya,sambil komat kamit mulutnya ,hingga kata terakhir adalah kata
tigapuluh dua ....”Jambu saya tigapuluh dua bu”.Guru itu lagi lagi keluar
senyumnya yang selama ini langka.Tersenyum karena guru itu jadi ngerti cara
mengajar kepada Andi,dan yang membuat dia tertegun cara andi menyimpulkan soal
matematika dengan logika yang benar.Terlebih caranya menggambar jambu sebanyak
32,secara bentuk sangat mirip dan semua hampir sama.Selain berbakat menggambar
,Andi dicatat oleh guru itu sebagai murid yang mempunyai konsistensi ilustrasi
yang ingin dia kemukakan.Setelah disuruhnya Andi pulang,dituliskannya catatan tentang
Andi di buku khususnya.
Sementara itu,ibu Andi yang penuh prasangka dan kemarahan
membuat gosip ke teman temannya sesama orang tua.”Oh ternyata sifatnya yang
aneh itu memang perlu dilaporkan,masak murid sendiri di palak dimintain
bekalnya”. “ah masa sih bu????” tanya beberapa temannya.”Lho saya itu dengar
sendiri waktu dia minta kelengkeng bekal anakku”.Rupanya cara bercerita dan
ekspresi ibu itu memancing dan mempengaruhi orang tua yang lain.Sehingga
omongan itu jadi meluas dan viral.Kata ibu guru memalak jadi hot line di
sekolah itu dan bisa jadi menyebar keluar karena saktinya peran medsos.Sungguh
masalah klasik yang terulang.Hanya karena pengertian sepenggal dan tidak pernah
dikonfirmasi,timbul asumsi yang membunuh karakter seseorang.Fitnah.
Sampailah gosip dan berita fitnah itu di telinga guru
itu.Bagaikan samber geledek di siang bolong.Syok dan efek kejut luar biasa
menghujam jantung.Sifatnya yang pendiam hanya bisa memendam rasa.Diberikanlah
semua buku catatan murid muridnya ke Kepala Sekolah sembari menyampaikan apa
sebenarnya yang terjadi,Tidak kurang dan tidak ditambahi.Dia pamit untuk tidak
mengajar.Baginya sulit untuk berdebat,Biarlah Kepala sekolahlah yang
menyampaikan pembelaannya kepada orang tua murid.Dia ingin istirahat agar rasa
sakitnya sembuh oleh waktu .
Suatu hari,Kepala Sekolah memanggil secara khusus Ibu Andi.Tanpa harus menginterograsi ,dia perlihatkan catatan rinci guru itu kepada Ibu dan ayahnya Andi.Dibacanya halaman sesuai tanggal ibu itu mendengar percakapan guru dan Andi tentang kelengkeng.”Tolong ibu baca dan ibu camkan,laporan dari guru itu begitu detail dan sistematis.Dia guru profesional yang mengerti kebutuhan,kesulitan ,dan solusi untuk anak ibu.”,perintah kepala sekolah.Tertulis disitu -Andi anak yang luar biasa,kesulitan memahami tulisan berapa angka,tapi logika verbalnya kuat,kemampaun ilustrasinya hebat,operasi matematika dipahaminya dengan menghitung kelengkeng,dan menggambarkan sebuah jambu dengan bagus dan menyenangkan.Saran untuk Andi,metode nya harus diajarkan dengan bercerita sambil dijelaskan tentang cara memahami simbol simbol angka,harus diasah kemampuan menggambarnya karena dia berbakat dan konsisten terhadap bentuk dan garis.Semoga Andi menjadi orang yang hebat karena kemauan bukan kecerdasan bawaan.Demikian saran di dalam buku khusus untuk andi.
Berlinanglah air mata ibu itu.Perasaan bersalah dan menyesal jadi satu.Sesenggrukan didada suaminya,dan merasa malu ada kepala sekolah di depannya.Kepala sekolah menyerahkan sebuah bantal kesayangan guru itu,bantal yang bertuliskan “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil”.Kepala Sekolah itu berbicara,”bantal itu khusus diberikan untuk Andi,agar andi mengingat dan melakukan perintah sesuai tulisan itu,ini bantal kesayangan guru itu”.Semakin keras dan menjadi jadi tangis ibu.Dia meronta meronta ingin segera ke tempat guru anaknya untuk minta maaf,dan menyampaikan penyesalan.Dia merasa berdosa telah melakukan fitnah kepada guru itu.
Kepala sekolah itu berbicara,”mungkin beliau bisa memaafkan ibu,tapi untuk melupakannya saya gak janji bu.Coba ibu keluarkan isi kapas itu dari bantal itu.Lalu ibu jatuhkan ke bawah sana.Biarkan terbaran kemana mana karena tertiup angin”.Ibu itu melongok tak mengerti maksutnya “ok tidak apa apa pak sepanjang kesalahan saya bisa dimaafkan oleh guru itu,akan saya lakukan apapun yang diminta”.Kepala sekolah itu kembali tersenyum ,”tapi maukah ibu mengumpulkannya kembali dan tetap utuh?”.Ibu yang kerap menggunakan emosi itu menyahut ,’itu mustahil pak namanya,mana bisa saya mengumpulkan secara utuh kapas yang telah bertebangan itu”.Sambil menepuk pundak ibu itu Kepala sekolah berbisik ,”seperti itulah yang anda lakukan kepada guruitu ,menebar gosip dan fitnahnya terbang kemana kemana,dan anda sekarang kesulitan menariknya”.
Hari itu ibu Andi belajar
tentang isi Bantal.Bantal yang luarnya tertulis sebuah motivasi,dalamnya
mengandung filosofi yang kuat.Dan saat itu juga bantal seistimewa apapun tidak
mampu membuatnya tidur nyenyak.Galau dan menyesal.Suatu hari,Kepala Sekolah memanggil secara khusus Ibu Andi.Tanpa harus menginterograsi ,dia perlihatkan catatan rinci guru itu kepada Ibu dan ayahnya Andi.Dibacanya halaman sesuai tanggal ibu itu mendengar percakapan guru dan Andi tentang kelengkeng.”Tolong ibu baca dan ibu camkan,laporan dari guru itu begitu detail dan sistematis.Dia guru profesional yang mengerti kebutuhan,kesulitan ,dan solusi untuk anak ibu.”,perintah kepala sekolah.Tertulis disitu -Andi anak yang luar biasa,kesulitan memahami tulisan berapa angka,tapi logika verbalnya kuat,kemampaun ilustrasinya hebat,operasi matematika dipahaminya dengan menghitung kelengkeng,dan menggambarkan sebuah jambu dengan bagus dan menyenangkan.Saran untuk Andi,metode nya harus diajarkan dengan bercerita sambil dijelaskan tentang cara memahami simbol simbol angka,harus diasah kemampuan menggambarnya karena dia berbakat dan konsisten terhadap bentuk dan garis.Semoga Andi menjadi orang yang hebat karena kemauan bukan kecerdasan bawaan.Demikian saran di dalam buku khusus untuk andi.
Berlinanglah air mata ibu itu.Perasaan bersalah dan menyesal jadi satu.Sesenggrukan didada suaminya,dan merasa malu ada kepala sekolah di depannya.Kepala sekolah menyerahkan sebuah bantal kesayangan guru itu,bantal yang bertuliskan “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil”.Kepala Sekolah itu berbicara,”bantal itu khusus diberikan untuk Andi,agar andi mengingat dan melakukan perintah sesuai tulisan itu,ini bantal kesayangan guru itu”.Semakin keras dan menjadi jadi tangis ibu.Dia meronta meronta ingin segera ke tempat guru anaknya untuk minta maaf,dan menyampaikan penyesalan.Dia merasa berdosa telah melakukan fitnah kepada guru itu.
Kepala sekolah itu berbicara,”mungkin beliau bisa memaafkan ibu,tapi untuk melupakannya saya gak janji bu.Coba ibu keluarkan isi kapas itu dari bantal itu.Lalu ibu jatuhkan ke bawah sana.Biarkan terbaran kemana mana karena tertiup angin”.Ibu itu melongok tak mengerti maksutnya “ok tidak apa apa pak sepanjang kesalahan saya bisa dimaafkan oleh guru itu,akan saya lakukan apapun yang diminta”.Kepala sekolah itu kembali tersenyum ,”tapi maukah ibu mengumpulkannya kembali dan tetap utuh?”.Ibu yang kerap menggunakan emosi itu menyahut ,’itu mustahil pak namanya,mana bisa saya mengumpulkan secara utuh kapas yang telah bertebangan itu”.Sambil menepuk pundak ibu itu Kepala sekolah berbisik ,”seperti itulah yang anda lakukan kepada guruitu ,menebar gosip dan fitnahnya terbang kemana kemana,dan anda sekarang kesulitan menariknya”.
Wawan Irianto
Kalikotes,26 April 2017


Tidak ada komentar:
Posting Komentar