Sabtu, 13 Juli 2019

NENEMBUS ZONASI

Ketika itu kami kaget,dengan putusan anak kami.Tiba tiba saja ia membatalkan rencana yang sudah lama untuk membeli gadget.Namun ketika tabungannya terkumpul dia justru putuskan untuk memberikannya sebagai sodaqoh kepada orang lain....


Ibunya bertanya,"kenapa mas?bukankah kamu memang ingin beli ?"
Anakku menjawab,"aku merasa sangat senang karena nilai UN ku bagus".Itu saja jawabannya tanpa ekspresi.Dan bila tanpa ekspresi seperti itu ,anakku sedang tidak bercanda.Ini sungguhan
Aku yang mendengar diam saja.Biarlah itu urusan anak saya.Duit-duitnya dia.Suka sukanya dia untuk apa.Namun saat itu,setelah menerima hasil kelulusan dan Nilai UN ,kami galau.Karena saat itu kami sudah mendengar untuk seleksi penerimaan siswa SMA baru,Nilai tidak ada artinya kalau rumahnya jauh dari sekolah yang diidamkan.Jadi berlebihan kalau sekedar nilai nya bagus,anakku mengorbankan perjuangan mengumpulkan uang selama ini,dan membatalkan rencananya mengganti gadgetnya yang terasa jadul dan error.
Pembelian batal,pemberian sodaqoh tetap dieksekusi anakku.Dan kami hanya bisa memotivasinya agar tetap giat menabung,agar suatu saat terbeli gadget itu.
Hari hari menjelang PPDB kian dekat.Anakku tenang tenang saja.Dia memang ingin SMA negeri.Tapi dia tidak fanatik dengan Sekolah tertentu.Dia menyadari jarak dari rumah ke satuan pendidikan di wilayah zonasi jauh.Dia menyerahkan ke sistem.
Dan saat itu komposisi jalur penerimaan tidak berpihak kepada kami.Jalur Zonasi,ini akan dipenuhi oleh mereka yang dekat sekolah tanpa melihat nilai atau prestasi.Walaupun porsinya 90% ,namun jarak kami yang 5,3km untuk pilihan 1,pilihan ke 2 berjarak 7,3 km,dan pilihan ke 3 berjarak 4 km membuat kami ciut hati ketika secara populasi di sekitar sekolah sekolah tersebut dipenuhi mereka yang berjarak kurang dari 3 km.
Akhirnya kami mengikuti apa yang dilakukan anak kami,pasrah.Kami rajin ikut sosialisasi PPDB itu ,sekedar siapa tahu bisa menyusun strategi.
Hingga akhirya 5 hari sebelum proses PPDB dimulai,berubahlah aturan itu.Jalur Zonasi dipecah menjadi 60% (murni Zonasi) dan 20%(prestasi dalam zonasi).Inilah titik awal kebangkitan semangat kami. Kami putuskan untuk bertarung di zona 20 % itu tanpa menambahi alternatif yang lain.
Hari pertama sudah bikin deg2an.Kuota yang 86,di 5 jam pertama urutannya sdh di 37.Semakin siang menjadi 67.Di saat saat itulah benar benar kami kehlangan konsentrasi.Kami membayangkan di hari hari berikutnya pasti nama anak kami sudah hilang dari jurnal.Namun anak kami cuek saja.Katanya kalau masih ada tidak usah dikuatirkan.
Hingga saat terakhir,dan kami seharian memantaunya,pergerakan terhenti..Di urutan 77 dengan kouta 86.Artinya kalau ada 9 siswa dengan nilai yang lebih tinggi dari anakku dan masuk di detik detik terakhir,pasti ilang nama anakku di jurnal, berarti juga pupus sudah harapan di sekolah pilihan utama itu.
Terimakasih Allah,kau berikan pelajaran lewat anak kami betapa bersyukur dan pasrah adalah satu paket yang tak terpisahkan.Bersyukur terhadap keadaan dimana orang lain menganggapnya biasa dan tidak perlu disyukuri.
Manusia boleh menentukan zonasi terhadap pergerakan manusia lainnya,namun kuasa Allah sangat luas dan menembus batas batas itu.
Renungan diri
Klaten,10 Juli 2019
Wawan Irianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar